
Jakarta, 26 Juni 2026 – Pandemi Covid-19 mungkin telah berlalu, tetapi dampaknya masih membekas bagi banyak keluarga Indonesia. Kehilangan pekerjaan, menurunnya pendapatan, hingga biaya hidup yang terus berjalan menjadi kenyataan yang harus dihadapi.
Di tengah situasi itu, banyak keluarga berjuang mencari cara untuk bertahan sekaligus membangun kembali harapan.
Salah satunya adalah Siti Zulfah. Wanita berusia 45 tahun tersebut adalah ibu rumah tangga yang kini menjalankan usaha nasi uduk, ayam geprek, dan kopi UMiMAX.
Kesulitan ekonomi menghampiri Siti ketika sang suami terkena PHK saat pandemi. Tak lama kemudian, suaminya didiagnosis menderita penyakit paru-paru serius yang mengharuskannya menjalani dua kali operasi. Setelah menjalani pengobatan panjang, kondisi kesehatannya tak lagi memungkinkan untuk bekerja.
Situasi tersebut membuat Siti menjadi tulang punggung bagi keluarganya yang beranggotakan lima orang. Di tengah kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anak yang terus berjalan, ia bahkan harus meminjam uang dan menggadaikan cincin terakhir yang dimilikinya agar sekolah anak-anak tetap berlanjut.
“Masa paling berat terjadi sepanjang 2023 hingga 2024, karena fokus mendampingi suami berobat. Saat itu sempat kehilangan harapan dengan situasi sulit,” cerita Siti.
Namun keadaan keluarga Siti mulai berubah pada 2025 ketika ia terpilih sebagai penerima Program UMiMAX (Ultra Mikro Pertamina Aksi). Melalui bantuan gerobak usaha, peralatan, bahan baku, serta pendampingan usaha, Siti kembali memulai usahanya dari nol.
Kini, usahanya berkembang dengan omzet kotor sekitar Rp6,08 juta per minggu. Penghasilan tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga memungkinkan dirinya melunasi berbagai utang yang sempat menumpuk.
Salah satu momen yang paling membahagiakan adalah ketika ia berhasil menebus kembali cincin yang pernah digadaikan demi pendidikan anak-anaknya.
“Bagi saya, UMiMAX bukan hanya bantuan usaha. Ini adalah kesempatan untuk bangkit kembali ketika saya merasa sudah tidak punya jalan keluar,” ujar Siti.
Kisah serupa dialami Wiwik Utami (49), warga Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah suaminya mengalami PHK hampir dua tahun lalu, kehidupan keluarganya bergantung pada penghasilan suami sebagai pengemudi ojek online yang tidak menentu.
Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah, keluarga mereka bahkan mendapat bantuan dari anak yang sudah bekerja.
Kesempatan bangkit datang ketika Wiwik menerima bantuan usaha Warung Mie Instan melalui Program UMiMAX. Pada awalnya usaha tersebut hanya menghasilkan kurang dari Rp50 ribu per hari. Namun kini berkat pendampingan dan ketekunan, jumlah pelanggan terus bertambah dan produk yang dijual semakin beragam.
Saat ini, Wiwik memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per minggu. Nilainya mungkin belum besar, tetapi cukup berarti untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan mengurangi ketergantungan kepada anak.
“Yang paling saya syukuri bukan hanya tambahan penghasilannya, tetapi karena sekarang saya bisa ikut membantu keluarga dan tidak lagi selalu bergantung pada anak,” kata Wiwik.

Bantuan Menjadi Kemandirian
Kisah-kisah tersebut menggambarkan dampak nyata program UMiMAX yang diinisiasi Pertamina untuk membantu masyarakat rentan, terutama korban PHK, pekerja informal, dan kelompok ekonomi lemah.
Program ini tidak hanya menyediakan sarana usaha, tetapi juga pendampingan dan pelatihan agar para penerima manfaat mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Hingga saat ini, sebanyak 168 mitra telah menerima dukungan usaha dan pendampingan melalui UMiMAX. Program tersebut telah menyalurkan dana hibah sebesar Rp1,17 miliar, menghasilkan total omzet usaha Rp2,75 miliar dan laba usaha mencapai Rp858 juta.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah tentang keluarga yang kembali memiliki penghasilan, orang tua yang dapat menyekolahkan anaknya, serta individu yang menemukan kembali kepercayaan diri untuk menatap masa depan. Bagi Siti dan Wiwik, UMiMAX bukan sekadar bantuan usaha. Program ini menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dari masa sulit menuju harapan yang kembali menyala. Ini menjadi bentuk nyata bahwa membantu bukan harus seperti Sinterklas saja.




