
Pemetaan udara berbasis drone kini banyak digunakan untuk mempercepat survey di tambang terbuka (open pit mine). Dengan kombinasi teknologi LiDAR dan photogrammetry yang mampu mencapai akurasi level sentimeter, area seluas 217,4 hektare di PT Timah Tbk dilaporkan dapat disurvey hanya dalam 38 menit, tanpa perlu menurunkan surveyor ke zona penggalian yang aktif.
Bentuk tambang terbuka berubah setiap hari akibat aktivitas penggalian, peledakan, dan pengangkutan material, sehingga peta yang dibuat minggu sebelumnya cepat usang. Padahal perhitungan volume, perencanaan tambang, hingga keputusan keselamatan sangat bergantung pada data terkini. Survey manual dengan total station memang akurat, namun prosesnya lambat dan mengharuskan surveyor berada dekat dinding galian aktif yang berisiko longsor.
Empat Tantangan Operasional Tambang
Operasi tambang terbuka umumnya menghadapi empat tantangan utama: kebutuhan data survey berulang di setiap tahap produksi, keselamatan di area luas dengan lalu lintas puluhan hingga ratusan haul truck, pengamanan aset dari potensi penambangan ilegal, serta kewajiban membuktikan progres reklamasi. Sejak berlakunya Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2025, penyusunan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) dilakukan tahunan, sehingga bukti kemajuan reklamasi juga harus tersedia lebih sering dan lebih terukur.
Kombinasi LiDAR dan Photogrammetry
Dua teknologi menjadi dasar metode pemetaan ini. RGB photogrammetry menyusun peta foto dan model 3D dari ratusan foto udara, sedangkan LiDAR memanfaatkan sensor laser yang mampu menembus vegetasi tipis untuk menghasilkan model permukaan tanah yang bersih. Perangkat seperti drone DJI Matrice 400 yang dipasangkan dengan sensor Zenmuse L3 diklaim mampu memetakan hingga 100 kilometer persegi per hari pada ketinggian terbang 300 meter. Data yang dihasilkan kemudian diolah menjadi kontur pit, analisis kestabilan lereng, dan perhitungan volume stockpile. Selain itu, dock drone otomatis digunakan untuk memantau kondisi haul road tanpa kehadiran pilot di lokasi, sementara perangkat lunak khusus tambang mengolah data untuk keperluan desain peledakan, fragmentasi batuan, dan analisis volumetrik.
Penerapan teknologi ini disebut sudah menunjukkan hasil terukur di lapangan. Selain survey 217,4 hektare dalam 38 menit di PT Timah Tbk, pemetaan haul road otomatis di kontraktor batubara PT BUMA disebut mencapai akurasi horizontal hingga 1,1 sentimeter. Pada operator nikel berskala besar, survey LiDAR multi-pit mencatat RMSE (root mean square error) XY di bawah 5 sentimeter. Data multispektral dari drone juga dimanfaatkan untuk mengukur indeks vegetasi di area reklamasi, sehingga laporan reklamasi, RKL-RPL, maupun RKAB dapat didukung data yang lebih mudah diaudit.
Sumber: Halo Robotics.





