BSI Maslahat Hadirkan Program Volunteering Maslahat Dorong Peran Mahasiswa Berdampak bagi Penyintas Bencana di Aceh

doc. BSI Maslahat

Aceh, 30 Januari 2026 – Di balik rumah yang hanyut, jalan yang rusak, sumber pendapatan yang hilang, bencana selalu meninggalkan luka lain yang sering luput dari perhatian: trauma yang menetap dalam batin para penyintas. Meski tidak terlihat, luka ini perlu mendapat perhatian, karena jika terabaikan dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang memengaruhi produktivitas serta kehidupan sosial mereka. 

Berangkat dari kesadaran tersebut, BSI Maslahat menghadirkan Volunteering Maslahat melalui program Maslahat untuk Bangsa sebagai ruang kepedulian dan pemulihan, mempertemukan semangat mahasiswa dengan kebutuhan nyata masyarakat terdampak bencana di Aceh. Melalui program ini, BSI Maslahat tak hanya hadir menyalurkan bantuan fisik, tetapi juga memberikan sentuhan kemanusiaan untuk memulihkan kekuatan mental para penyintas. 

Read More

Program Maslahat untuk Bangsa hadir sebagai respon atas kondisi darurat dan kebutuhan pemulihan psikososial masyarakat terdampak. Maslahat untuk Bangsa sendiri merupakan program kerelawanan mahasiswa yang berfokus pada layanan dan pendampingan di wilayah terdampak bencana. Program ini menjadi ruang pengabdian bagi awardee dan alumni BSI Scholarship, serta mahasiswa umum, untuk terjun langsung membantu masyarakat yang membutuhkan. 

Dalam pelaksanaanya, BSI Maslahat berkolaborasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam mendampingi masyarakat penyintas banjir dan longsor di Aceh untuk bangkit dari trauma. Program ini dilaksanakan pada Desember 2025 hingga Februari 2026, dengan kegiatan utama berupa pendampingan psikososial yang berlangsung pada 13–26 Januari 2026. 

Fokus utama program ini yakni pemulihan kondisi mental dan emosional para penyintas melalui pendampingan psikososial dengan model Trauma Recovery & Community Resilience Program (TR-CRP). Model ini dirancang agar masyarakat penyintas bencana tidak sekadar menerima bantuan sesaat, melainkan memperoleh pemberdayaan berkelanjutan melalui interaksi dan edukasi terarah yang inklusif. Pendekatan ini menekankan dukungan emosional yang konsisten guna menumbuhkan rasa kebersamaan, memperkuat ketahanan mental, serta mendorong partisipasi aktif dalam komunitas secara berkesinambungan. 

Program dilaksanakan secara bertahap di beberapa wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa. Pada tahap pertama pelaksaaan program tim relawan BSI Maslahat dan HIMPSI melakukan survey dan assessment lapangan untuk mengetahui kebutuhan awal psikososial masyarakat penyintas bencana.

Tahap selanjutnya, pelaksanaan pendampingan psikososial tahap 1 di kampung Batang Ara dan Kampung Paya perang pada 13-20 Januari. Di tahap ini, kegiatan utama program berupa dukungan psikososial, games psikososial untuk anak-anak, serta psikoedukasi dan stabilisasi emosi bagi penyintas dewasa. 

Pelaksanaan pendampingan psikosoisal tahap 2 dilaksanakan di kampung Landuh dan kampung Durian pada 20–26 Januari 2026. Di wilayah ini pendampingan psikososial difokuskan pada kegiatan trauma healing, psikoedukasi, serta penguatan ketahanan psikososial berbasis komunitas. 

Kehadiran relawan BSI Maslahat bersama HIMPSI disambut dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat penyintas. Program pendampingan psikososial ini menumbuhkan harapan baru, khususnya bagi para penyintas bencana, untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka. 

Salah satu kegiatan psikososial yang diberikan adalah kegiatan wish tree atau pohon harapan. Melalui kegiatan ini, anak-anak penyintas diajak menuliskan harapan dan mimpi mereka sebagai cara menumbuhkan semangat serta kepercayaan diri. Dengan wajah ceria, mereka menuliskan kata demi kata penuh doa, lalu menempelkannya pada pohon harapan. 

Di Kampung Durian, seorang anak penyintas bernama Jihan Talita Ulfa menyampaikan harapannya yang menyentuh.

“Aku mau Aceh cepat pulih lagi. Aku juga ingin punya rumah, punya mobil, dan semoga nanti aku bisa membelikan apa pun yang orang tuaku inginkan,” tulis Talita penuh harap. 

Usai pelaksanaan kegiatan pendampingan psikososial, program akan dilanjutkan dengan tahapan monitoring dan evaluasi yang dijadwalkan berlangsung pada 5–7 Februari mendatang. Tahapan ini dilaksanakan sebagai wujud komitmen terhadap keberlanjutan serta peningkatan kualitas program. 

Kehadiran program ini diharapkan mampu menjadi penguat, pendengar, sekaligus pendamping bagi para penyintas yang tengah berjuang memulihkan kembali keseimbangan hidup mereka. Program ini menegaskan komitmen BSI Maslahat dalam mendorong lahirnya mahasiswa berdampak. Mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan harapan serta manfaat nyata bagi masyarakat luas.

doc. doc. BSI Maslahat

Related posts

Leave a Reply