
Sumatra Barat, 13 Februari 2026 – Di sebuah sudut kampung di Sumatra Barat kehidupan Hasna Rusli berputar pelan namun pasti. Perempuan 55 tahun itu tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan kecilnya dalam memelihara itik akan membawanya terbang naik pesawat menuju Silaturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro (BWM) di Jakarta.
“Waktu itu saya naik pesawat ke Jakarta, rasanya seperti mimpi. Saya tidak pernah menyangka usaha kecil saya bisa membawa saya sejauh itu,” kenangnya tersenyum.
Undangan itu bukan kebetulan. Di baliknya, ada perjalanan panjang penuh keuletan, dan perjuangan.
Keberanian untuk Memulai
Hasna memulai beternak itik pada 2011. Jumlahnya tak seberapa, sekadar untuk membantu dapur tetap mengepul. Ia bahkan sempat beralih ke usaha batu bata. “Bisnis batu bata sempat saya jalani, tapi berhenti. Tenaganya besar, pasarnya tidak selalu jelas,” katanya.
Titik balik datang pada Mei 2018 saat Hasna mengenal BWM Al-Kautsar yang diinisiasi oleh BSI Maslahat. Kesempatan tersebut kemudian mengantarkan Hasna untuk bergabung dalam HALMI Babul Rizky, kelompok yang menjadi ruang belajar dan saling menguatkan bagi para perempuan pelaku usaha mikro.
“Sebelum bergabung dengan Al‑Kautsar, saya hanya punya enam ekor itik,” tuturnya.
Ia memulai pinjaman sebesar satu juta rupiah dari BWM Al‑Kautsar. Dari sanalah pinjaman tersebut mulai ia kelola dengan cermat, menjadi modal awal yang kemudian diperkokoh melalui pendampingan BSI Maslahat untuk mengembangkan usahanya lebih berkembang.
Belajar dari Rugi, Beralih Strategi
Di dua periode awal pembiayaan, Hasna memilih itik pedaging. Namun, perjalanan tidak mulus. Itik pedaging memerlukan perhatian ekstra.
“Membesarkan bibit itik sama dengan mengasuh bayi. Paruh bibit itik tidak boleh basah, bisa mati,” jelasnya.
Kerugian pernah dialami Hasna ketika dari 50 (lima puluh) ekor itik yang dibeli, lima ekor di antaranya mati. Kesedihan pun dirasakan, namun pengalaman tersebut dijadikan pelajaran, sehingga diperlukan strategi dengan risiko yang lebih kecil
Dua tahun kemudian, pada 2020, Hasna memutuskan untuk mengganti itik pedaging dengan itik petelur.Dengan jenis itik petelur, perawatan dianggap lebih mudah. Modal pakan diperkirakan sebesar Rp100.000 per hari, dengan harga telur sekitar Rp2.500 per butir. Untuk balik modal, diperlukan sekitar 40 butir telur yang dihasilkan oleh itik petelur.
Berdaya dan Mengembangkan Diri
Usaha telur itik yang stabil membuka ruang bagi Hasna untuk bertumbuh ke lini lain. Ia mencoba membuat tas rajut dari tali kur, bermodalkan referensi dari gawai dan pesanan yang datang dari tetangga dan komunitas.
“Model tas saya cari di handphone. Saya coba satu-satu. Awalnya lama, tapi lama-lama tangan terbiasa,” tuturnya.
Karya itu mendapat sambutan. Produk Hasna sering ikut pameran yang digelar BWM Al Kautsar. “Di pameran, saya jual Rp250 ribu. Suatu ketika, tas saya dibeli istri Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Saya terharu, rasanya seperti ada yang mengakui kerja tangan saya,” ujarnya berkaca-kaca.
Bagi Hasna, kekuatan BWM bukan hanya pada akses permodalan, melainkan pada komunitas HALMI yang hidup dan saling menumbuhkan. Dipandu supervisor Farid, kelompok ini punya tradisi unik yaitu bergantian menyampaikan tausiyah setiap pertemuan.
Dukungan BSI Maslahat
Keberhasilan Hasna tidak hadir melalui lompatan besar yang terjadi seketika, melainkan dibentuk oleh rangkaian keputusan kecil yang dijalankan dengan konsisten. Langkah-langkah itu diperkuat melalui pendampingan BSI Maslahat dalam program Lembaga Keuangan Mikro Syariah Bank Wakaf Mikro (LKMS-BWM). Dari perjalanan Hasna, terlihat bahwa pertumbuhan selalu menuntut peluh, namun sekaligus membutuhkan ikhtiar yang tak pernah berhenti.
BSI Maslahat terus menunjukkan bagaimana pemberdayaan yang dirancang dengan tepat mampu menghadirkan maslahat yang berdampak nyata bagi masyarakat prasejahtera. Dukungan modal, pendampingan usaha, serta pembinaan berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Upaya penguatan ekonomi keluarga membantu mendorong SDGs No.1: Tanpa Kemiskinan, karena penerima manfaat diberi peluang untuk meningkatkan pendapatan dan keluar dari lingkaran kerentanan ekonomi.
Sementara itu, peningkatan keterampilan, tata kelola usaha, serta stabilitas pendapatan para anggota menjadi wujud nyata dukungan terhadap SDGs No.8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Bahwa akses keuangan syariah yang inklusif mampu membuka jalan menuju usaha yang lebih produktif dan bermartabat. Melalui rangkaian inisiatif ini, BSI Maslahat menunjukkan bahwa program pemberdayaan turut mendukung perubahan para mustahik untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.
Kandang Bertambah, Produksi Menanjak
Berganti jenis usaha membuat manajemen kandang berubah. Itik petelur produktif sekitar dua tahun. Ketika bulu mulai rontok, tanda produksi menurun, Hasna segera putuskan penukaran induk.
“Kalau bulunya rontok, saya jual. Harganya bisa sampai Rp51 ribu. Uangnya saya tambahkan untuk beli itik baru seharga sekitar Rp75 ribu. Memang harus menunggu sebulan sampai bertelur,” jelasnya.
Kini, Hasna memelihara 125 itik petelur. Ia membuat kandang menjadi tiga petak ukuran 3×3 meter, masing-masing menampung sekitar 35 ekor itik. Dari perhitungan sederhana, jika 80 persen itiknya bertelur, Hasna memperoleh ±90 butir per hari.
“Kalikan Rp2.500, dapat Rp225 ribu. Dikurangi pakan Rp100 ribu, bersihnya kira-kira Rp125 ribu per hari. Alhamdulillah, uang ini yang menghidupi kami,” ucapnya.





