
Alternativa Film Festival (AFF) 2027 resmi membuka pendaftaran bagi sineas dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang ingin menampilkan karya bertema isu sosial. Pendaftaran dibuka tanpa biaya mulai 29 Oktober 2026 hingga 1 Maret 2027. Edisi keempat ini menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya festival akan diselenggarakan di benua Afrika pada akhir 2027.
Hadiah dan Kategori Kompetisi
Panitia menyiapkan total hadiah sebesar US$120.000 yang akan dibagikan melalui tujuh kategori penghargaan. Festival menerima film panjang berdurasi minimal 40 menit dari sineas Afrika, Asia, dan Amerika Latin, serta film pendek maksimal 40 menit yang khusus terbuka bagi sineas Afrika. Genre yang diterima meliputi fiksi, dokumenter, animasi, hingga karya hybrid, dengan syarat produksi selesai setelah 1 Januari 2026.
Liza Surganova, Head of Alternativa, mengatakan setiap edisi festival terus berkembang dari segi jangkauan maupun peluang bagi sineas. Ia menyebut edisi mendatang di Afrika akan menjadi penyelenggaraan paling besar dan ambisius sejauh ini sekaligus memperkuat hubungan antar komunitas perfilman negara-negara Global South.
Festival ini mengusung konsep nomaden, berpindah lokasi tiap edisi: Almaty (2023), Yogyakarta (2024), dan Medellin (2026). Pada penyelenggaraan di Medellin, AFF mencatat 1.831 pendaftaran dari 55 negara, dengan kontribusi signifikan dari Brasil, Meksiko, Argentina, India, Iran, Tiongkok, serta negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Acara tersebut turut menarik sekitar 11.000 pengunjung dan 107 tamu internasional.
Selain kompetisi, Alternativa juga mengoperasikan Alternativa Distribution, label distribusi film nirlaba yang diluncurkan pertengahan 2026 untuk membantu karya sineas Global South menjangkau penonton internasional. Film terpilih dari edisi 2027 berpotensi masuk ke katalog ini. Arsen Tomsky, pendiri inisiatif Alternativa, menyampaikan bahwa akses distribusi yang merata penting agar karya berkualitas dari berbagai negara bisa dikenal secara global.
Catatan Redaksi. Istilah Global South merujuk pada negara-negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang secara historis kurang terwakili dalam industri perfilman arus utama dibanding Eropa dan Amerika Utara. Konsep festival nomaden, yang berpindah kota tiap edisi, berbeda dari festival besar seperti Cannes atau Berlinale yang menetap di satu lokasi, dan biasanya dipilih untuk memperluas jaringan sineas lokal di tiap wilayah yang disinggahi serta mendekatkan akses bagi komunitas film yang jarang mendapat sorotan global.
Sumber: Alternativa.





