Menggali Sejarah dan Kelezatan Sate Kere, Kuliner Khas Kota Solo yang Melegenda

Solo – Dikenal sebagai Kota Bengawan, Solo tidak hanya terkenal karena kekayaan budaya dan sejarahnya, tetapi juga keistimewaan kulinernya. Salah satu hidangan yang menjadi bukti kreativitas dan ketangguhan warga Solo dalam menghadapi keterbatasan adalah Sate Kere, sebuah kuliner yang merefleksikan sejarah panjang dan perjuangan masyarakat di masa lalu.

Kata “Kere”, dalam Bahasa Jawa memang berarti “ekonomi sulit”, yang membuat orang terkadang memandang sebelah mata makanan satu ini. Namun, tahukah kamu bahwa Sate Kere memiliki cita rasa dan sejarah yang menarik? Sate kere konon berkembang pada zaman penjajahan Belanda, saat daging menjadi barang mewah yang tidak terjangkau oleh masyarakat. Dengan kreativitas yang tinggi, mereka menggantikan daging dengan tempe gembus dan jeroan, dibumbui dengan kekayaan rempah Indonesia, menghasilkan sebuah hidangan yang tidak hanya mengenyangkan tapi juga lezat.

Cerita di balik kelahiran Sate Kere mencerminkan perjuangan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan pada zamannya. Hidangan ini menjadi simbol perlawanan terhadap kondisi sosial ekonomi yang dialami oleh masyarakat di bawah penjajahan. Meski demikian, Sate Kere kini telah bertransformasi menjadi salah satu ikon kuliner Kota Solo yang dicari oleh berbagai kalangan, termasuk para wisatawan dari luar daerah.

Baca juga  Meriahkan Akhir Pekan Anda dengan Pesona Nusantara Fair 2024 di Jakarta!

Sehingga pada akhirnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengakat Sate Kere sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Keputusan untuk menetapkan Sate Kere sebagai WBTB diambil pada tahun 2021, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk melestarikan dan mengakui kekayaan budaya tak benda di Indonesia. Penetapan ini didasarkan pada berbagai tahapan dan kriteria, termasuk dokumentasi dan naskah akademik yang mendukung, serta keterlibatan langsung dari pelaku budaya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan budaya dan tradisi lokal​​​​.

Dengan statusnya sebagai WBTB, Sate Kere kini bukan hanya warisan kuliner tetapi juga simbol kekayaan budaya yang harus dipelihara dan dikembangkan. Ini mencerminkan pentingnya pelestarian budaya dan tradisi di tengah perubahan zaman, serta peran aktif masyarakat dalam menjaga identitas budaya mereka. Ini juga membuka peluang untuk pengakuan lebih lanjut di tingkat internasional, seperti melalui UNESCO, yang akan menambah nilai dan prestise bagi budaya Indonesia di mata dunia.

Baca juga  Lawang Sewu Siap Memikat Hati di Cosplay Hype Carnival 2024

Keunikan Sate Kere tidak hanya terletak pada sejarah dan nilai budayanya, tetapi juga rasa yang khas dan lezat. Bumbu yang meresap dalam tempe gembus dan jeroan menghasilkan cita rasa yang unik dan memanjakan lidah, menjadikannya wajib dicoba bagi siapa pun yang berkunjung ke Kota Solo.

Para penjaja Sate Kere dapat ditemukan di berbagai sudut Kota Solo, mulai dari warung tepi jalan hingga restoran. Mereka telah melayani penikmat kuliner selama puluhan tahun, menjadikan Sate Kere sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan kuliner kota.

Masyarakat lokal dan wisatawan sama-sama menyukai Sate Kere, tidak hanya karena harganya yang terjangkau, tapi juga karena cerita dan tradisi yang dibawanya. Kuliner ini menjadi bukti bahwa kelezatan tidak selalu berasal dari bahan yang mewah, tetapi juga bisa lahir dari kreativitas dan ketahanan dalam menghadapi keterbatasan.

Baca juga  Kampanyekan Gemarikan, KKP Gelar Roadshow Makan Ikan Bersama di Beberapa Ponpes Jawa Timur

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Solo, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi Sate Kere. Hidangan ini tidak hanya menawarkan kelezatan rasa, tetapi juga pengalaman kuliner yang kaya akan sejarah dan budaya.

Penulis: Tsaqif Ridwan