Sempat Gadaikan Sertifikat Rumah, Kini Usaha Bandeng Rorod Mak Omah Beromzet Rp 60 juta

6.616

Jakarta, 02 Oktober 2020 – Bandeng merupakan salah satu ikan yang sudah sangat familiar di masyarakat. Selain kaya akan vitamin dan mineral, bandeng juga dapat diolah menjadi aneka masakan yang menggugah selera

Namun, tak sedikit orang memilih menghindari memakan ikan bandeng lantaran banyak duri. Bahkan, tak sedikit yang kesal dengan duri ikan bandeng yang terkadang menusuk di tenggorokan

Namun di tangan Alif Ridwan, ikan bernama latin Cholas-Cholas itu diolah menjadi menu makan praktis, bahkan menjadi oleh-oleh khas Kota Bekasi untuk dibawa pulang atau dibagikan kepada sanak saudara.

Ya, inilah Bandeng Rorod Mak Omah. Berdiri sejak tahun 2011, siapa sangka, usaha makanan khas Betawi bermodal Rp 10 juta yang dikelola Afif dan istrinya Yessi kini beromzet hingga Rp 60 juta.

Perjuangan mereka untuk membesarkan kuliner ini tidak semudah membalikan tangan, Afif bahkan sempat menggadaikan sertifikat rumah dan BPKB kendaraan bermotor miliknya untuk dijadikan modal usaha.

“Tadinya kami buka rumah makan dengan menu utama masakan Betawi, tapi bangkrut lantaran sepi pengunjung,” ujar Afif.

Tidak patah semangat, Afif kemudian berinovasi dengan ikan bandeng, menu andalan rumah makannya tersebut. Menurut bapak dua anak ini, Bandeng merupakan panganan istimewa hasil laut yang harus diangkat menjadi ikon oleh-oleh khas Bekasi.

“Kebetulan ibu saya punya resep khusus untuk olahan ikan bandeng,” jelasnya.

Voila, berkat kegigihan dan tekad kuat Afif, usaha pengolahan bandeng miliknya terus berkembang dan banyak diminati pecinta kuliner.

Awalnya Bandeng Rorod Mpok Omah menjual bandeng dalam keadaan matang, namun karena banyaknya pelanggan yang ingin membawa Bandeng Rorod Mpok Omah sebagai oleh-oleh akhirnya mulai tahun 2012 disediakan Bandeng Rorod beku (frozen) agar lebih tahan lama.

Bandeng Rorod hanya dapat bertahan 24 jam saja dalam suhu ruang, namun jika dalam keadaan beku bisa tahan sampai 6 bulan. Berbeda dengan bandeng presto yang memiliki tulang dan duri lunak, Bandeng Rorod Mpok Omah tidak memiliki tulang dan duri.

”Tulang utama dipisahkan dengan cara ditarik, kalau bahasa Bekasinya dirorod. Dari situ ide menggunakan nama Bandeng Rorod,” kata Afif.

Sandiaga Uno menilaii inovasi adalah hal utama dalam mengembangkan bisnis yang kita jalankan. Ia juga membagikan tips agar bisnis yang kita jalankan tetap dilirik oleh calon pembeli.

“Pastikan produk kita orisinal, otentik, dan memiliki daya jual yang baik,” ujar sandi.

Ucapan Sandi diamini oleh Afif, pria berusia 53 tahun ini berpesan kepada warga yang mau memulai bisnis kuliner agar tidak patah semangat ketika usaha yang kita jalankan gagal di tengah jalan.

“Bisnis itu kita harus istiqomah, harus yakin usaha kita itu akan berkembang,” jelas Afif.

Masih banyak cerita lain perjuangan Afif dan Yessi dalam mengembangkan usaha kuliner ini. Sandiaga Uno akan membagikan kisah inspiratif mereka dan mempraktekkan membuat olahan Bandeng Rorod dalam acara Jemput Rezeki di Indosiar, Sabtu 3 Oktober 2020.