Merekam Amarah dan Realitas Kota, Steel Haze Hadirkan EP No Brakes, All Rage

doc. photo by STEEL HAZE TEAM

MALANG, 7 Januari 2026 – Steel Haze adalah band Hardcore asal Malang akhir tahun 2024 di Malang dengan inspirasi dari gaya hardcore era 2000-an yang dipadukan dengan riff-riff modern, menciptakan sound yang agresif namun tetap berakar kuat pada tradisi hardcore punk.
Steel Haze saat ini diperkuat oleh Rizky Wahyu sebagai vokalis, M. Ayubi Zulkarnain pada posisi gitar utama, Cahya Basofi sebagai gitar ritme, M. Ramadhan Malik di lini bass, serta Wahyudi Febrianto di belakang drum. Steel Haze telah merilis EP perdana No Brakes, All Rage pada 1 Desember 2025. 

Melalui EP No Brakes, All Rage yang memuat empat lagu, Steel Haze menarik garis besar tema kemarahan sebagai benang merah utama. Band hardcore asal Malang ini tidak berangkat dari konsep yang rumit, melainkan dari hal-hal yang terjadi di sekitar mereka dan pengalaman yang dijumpai dalam keseharian. Lagu “Abandoned Street” merefleksikan perubahan Kota Malang yang mereka rasakan, sementara “Cold Ashes” menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka atas kepergian seorang sahabat. Di sisi lain, “Feel The Quarrel” hadir sebagai kritik terhadap kepercayaan mistis yang masih melekat di lingkungan sekitar, dan “A Numb Letter” menjadi satu-satunya nomor bernuansa cinta dalam EP ini, mengisahkan tentang hubungan yang berakhir dan perasaan yang tertinggal.

Read More

“Untuk EP No Brakes, All Rage ini berisikan 4 lagu. Kami memberi garis besar tentang kemarahan untuk temanya. Kami tak jauh-jauh dalam memikirkan konten, cukup tentang hal-hal yang terjadi di sekitar kami dan apa yang kami alami sehari-hari. Contohnya seperti lagu “Abandoned Street” yang berbicara soal Kota Malang yang mulai berubah, lagu “Cold Ashes” tentang sahabat kami yang telah tiada, lalu “Feel The Quarrel” yang merupakan kritik kami terhadap hal-hal mistis yang masih dipercayai dan melekat di masyarakat sekitar dan terakhir “A Numb Letter” yang merupakan satu-satunya lagu cinta di dalam EP ini yang bercerita tentang cinta yang kandas,” jelas Rizky Wahyu

Proses rekaman dilakukan mandiri di tempat Ayubi dan 202 Sonic Lab untuk sesi vokal, kemudian dilanjutkan dengan tahap mixing dan mastering oleh Aquiver Records. Penulisan lirik sepenuhnya ditangani oleh Rizky Wahyu. Identitas visual EP ini dilengkapi melalui artwork sampul yang dikerjakan oleh Napiceko. Durasi produksi dimulai sekitar awal sampai pertengahan tahun 2025. Tidak ada kendala berarti selain kesibukan masing-masing personil

“Kalau untuk kendala kemarin dalam pembuatan EP ini cukup bisa kami atasi. Tidak ada yang rumit selain menyesuaikan jadwal kesibukan masing-masing personil dengan proses produksi. Kebanyakan sibuk dengan urusan rumah tangga masing-masing bahkan ada yang baru menikah dan ada yang istrinya masih mengandung,” ujar Rizky Wahyu sang vokalis

Steel Haze juga berencana, setelah merilis EP ada beberapa plan. Bahkan tak lama setelah rilis, mereka kembali aktif bermain di gigs-gigs lokal Malang di bulan Desember untuk perkenalan EP. Untuk rencana tur pasti ada namun tidak dalam waktu dekat. 

“Setelah perilisan EP, sebenarnya ada rencana untuk menggelar tur. Namun, pasca rilis kemarin kami lebih dulu tampil di beberapa gig lokal sepanjang bulan Desember sebagai langkah awal untuk memperkenalkan EP ini.” tutup Rizky Wahyu.

Dirilis pada 1 Desember 2025, EP No Brakes, All Rage dari Steel Haze kini telah tersedia dan dapat dinikmati di berbagai platform digital seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music, menjadi penanda langkah lanjutan band hardcore asal Malang ini dalam menyuarakan energi, kemarahan, dan realitas yang mereka hadapi.-ALFAN-

doc. artwork by NAPICEKO

Related posts

Leave a Reply