
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penerbitan surat berharga oleh perusahaan multifinance turun 12,71% menjadi Rp62,19 triliun. Meski demikian, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menegaskan penurunan ini tidak serta-merta mencerminkan melemahnya kebutuhan pendanaan di industri pembiayaan.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, menjelaskan bahwa piutang pembiayaan multifinance per Juli 2026 justru masih tumbuh 2,01%. Menurutnya, yang terjadi adalah perubahan strategi perusahaan dalam menentukan komposisi dan waktu penerbitan instrumen pendanaan, bukan penurunan permintaan dana.
Perbankan Jadi Andalan
BRI Finance menyebut pendanaan dari perbankan masih mendominasi industri multifinance karena lebih fleksibel untuk kebutuhan likuiditas harian, dengan proses dan biaya administrasi yang relatif lebih cepat dan murah dibandingkan penerbitan surat berharga di pasar modal.
Keputusan menerbitkan surat berharga, menurut Dhani, mempertimbangkan banyak faktor seperti biaya dana, kondisi pasar, minat investor, hingga kebutuhan ekspansi dan refinancing. Kenaikan kembali BI Rate pada Juni 2026, setelah sempat turun di akhir 2025, membuat perusahaan lebih memilih fasilitas perbankan dengan suku bunga yang bisa dinegosiasikan.
Kendati begitu, BRI Finance menyatakan masih melihat peluang di pasar obligasi ke depan. Perusahaan mencatat sisa plafon Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) sebesar Rp1 triliun yang rencananya akan dimanfaatkan pada periode 2027, dengan tetap memperhitungkan kondisi pasar dan kebutuhan ekspansi.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





