Santri Tak Sekadar Mengaji, Kisah Ketahanan Pangan Pesantren  Urwatul Wutsqo Bersama BSI Maslahat

doc. BSI Maslahat

Jombang, 10 Februari 2026 – Di Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang, santri belajar bahwa sepiring nasi bukan  sekadar hidangan, melainkan hasil dari doa, kerja keras, dan pengelolaan alam. Melalui  dukungan BSI Maslahat, santri tidak hanya mengaji, tetapi juga menjadi pelaku ketahanan  pangan yang menopang kehidupan pesantren. Di balik lantunan ayat-ayat suci yang menggema  setiap hari, Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang menyimpan pelajaran hidup lain yang tak  kalah penting. Para santri di pesantren ini belajar menyentuh tanah, merawat tanaman, memberi  pakan ternak, hingga mengolah hasil panen menjadi makanan untuk ribuan porsi konsumsi  harian. 

Pesantren yang berdiri sejak 1946 oleh KH Muhammad Ya’qub ini awalnya hanya menjadi tempat  mengaji. Seiring berjalannya waktu, madrasah-madrasah lahir dan jumlah santri terus bertambah.  Sejarah panjang pesantren membentuk tradisi kuat: siapa pun yang datang untuk belajar agama,  akan diterima dan dihidupi. Pada masa kepemimpinan KH Drs. M. Qoyim Ya’qub, pesantren  bahkan membebaskan seluruh biaya pendidikan santri. Santri yang memiliki rezeki dipersilakan  berinfak, sementara yang tidak membawa apa pun tetap diasuh sepenuhnya. Untuk memenuhi  kebutuhan makan, pesantren membutuhkan sekitar Rp175 ribu per santri setiap bulan. Jumlah  santri mencapai lebih dari 550 orang, terdiri dari sekitar 250 santri putra dan 300 santri putri. 

Read More

Ketahanan Pangan sebagai Ikhtiar Pesantren 

Seiring meningkatnya kebutuhan dan tantangan ekonomi, pesantren menyadari bahwa  kemandirian pangan menjadi kunci keberlangsungan. Upaya tersebut semakin diperkuat melalui  Program Pesantren Sehat yang diinisiasi oleh BSI Maslahat, khususnya pada aspek ketahanan  pangan. Melalui program ini, pesantren mendapatkan dukungan pengembangan usaha  ketahanan pangan berbasis integrated farming, yang menghubungkan sektor pertanian,  peternakan, dan perikanan dalam satu sistem terpadu. Di Pesantren Urwatul Wutsqo,  pendekatan ini diterapkan melalui konsep permakultur (permanent agriculture). 

Permakultur dirancang meniru pola alam, membangun ekosistem yang saling terhubung,  produktif, dan berkelanjutan. Tidak ada yang terbuang. Limbah organik diolah kembali menjadi  pupuk, sementara hasil panen dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan santri dan  operasional pesantren. 

Santri Turun ke Lahan, Belajar dari Alam 

Bagi Pesantren Urwatul Wutsqo, ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan  makanan, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter. Salah satu kewajiban santri di pesantren  ini adalah “Amal Sholeh” sebuah praktik nyata yang mengajarkan santri untuk terlibat langsung  dalam kehidupan pesantren. 

Santri putra dibagi ke dalam kelompok-kelompok pengelolaan lahan pertanian, perkebunan,  peternakan, dan perikanan. Mereka belajar dari proses paling awal: mengolah tanah, menanam,  merawat, hingga memanen. Sementara itu, santri putri mengolah hasil panen menjadi makanan  yang dikonsumsi bersama setiap hari. 

Qurrotul Ainiyah atau kerap disapa Bu Nyai Pesantren Urwatul Wutsqo menyampaikan “Para  santri jadi memahami proses pengelolaan pangan sejak awal, mulai dari menanam, merawat,  hingga memanen. Santri putri juga mengetahui bagaimana santri putra bercocok tanam. Dari situ  mereka belajar menghargai nikmat Allah, karena untuk bisa menikmati makanan, ternyata  dibutuhkan perjuangan.” Melalui pola ini, santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga  belajar menghargai proses kehidupan dan kerja keras. 

Makan Sehat, Santri Lebih Kuat 

Hasil dari sistem ketahanan pangan ini dimanfaatkan dalam dua bentuk. Sebagian hasil panen  dijual untuk membantu biaya operasional pesantren, sementara sebagian lainnya digunakan  langsung untuk memenuhi kebutuhan makan santri. Perubahan pola konsumsi dengan bahan  pangan organik turut berdampak pada kesehatan santri, sejalan dengan tujuan Program  Pesantren Sehat. Bagi pesantren, pangan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga sumber  keberkahan dan pembelajaran hidup. 

Ustaz Kholik, salah satu pengurus pesantren, menilai program ketahanan pangan yang didukung  BSI Maslahat membawa manfaat besar dan berkelanjungan.

“Alhamdulillah, kami sangat  merasakan manfaat dari program ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada BSI Maslahat.  Kami berharap dan berdoa semoga program ini terus berjalan dan membawa keberkahan bagi  pesantren, BSI Maslahat, dan seluruh pihak yang terlibat,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa program ini bukan hanya mendorong pola hidup sehat, tetapi juga  memberikan edukasi praktis kepada santri.

“Santri tidak hanya memahami secara teori, tetapi  terlibat langsung dalam praktik. Harapannya, ilmu ini bisa mereka kuasai dan ditularkan kepada  masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing,” tambahnya. 

Dari Pesantren untuk Kemaslahatan yang Lebih Luas 

Melalui dukungan BSI Maslahat, Pesantren Urwatul Wutsqo Jombang membuktikan bahwa santri  mampu menjadi pelaku ketahanan pangan. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan internal  pesantren, tetapi juga sebagai bekal pengabdian di tengah masyarakat. Santri tidak hanya  memahami nilai agama secara lisan, tetapi mempraktikkannya melalui kerja nyata, menjaga  alam, dan memastikan keberlanjutan pangan. 

Program ketahanan pangan ini menjadi contoh bagaimana intervensi yang tepat dapat  melahirkan dampak berlapis: santri lebih sehat, pesantren lebih mandiri, dan pengetahuan  tentang pengelolaan pangan berkelanjutan siap ditularkan ke lingkungan sekitar. Dari pesantren,  nilai kemandirian dan kepedulian tumbuh, lalu menyebar ke keluarga dan masyarakat tempat  para santri kelak kembali. 

Bagi BSI Maslahat, ketahanan pangan bukan sekadar program, melainkan ikhtiar menghadirkan  kemaslahatan yang berdampak nyata serta berkelanjutan. Dengan menjadikan santri sebagai  subjek utama, BSI Maslahat turut menanamkan nilai keberdayaan yang dampaknya tidak  berhenti di pesantren, tetapi meluas ke umat dan lingkungan yang lebih besar.

Di Pesantren Urwatul Wutsqo, mengaji dan mengolah tanah berjalan seiring. Dari sanalah lahir  generasi santri yang beriman, berilmu, mandiri, dan siap menebarkan manfaat. Sebuah wujud  nyata dari kemaslahatan yang terus mengalir.

doc. BSI Maslahat
doc. BSI Maslahat

Related posts

Leave a Reply