
Purwokerto, Januari 2026 – Terhitung tanggal 1 Januari 2026, 5678things resmi merilis ulang EP bertajuk Siuversa; Song Is Our Conversation, sebuah mini album yang merangkum keresahan, percakapan batin, dan potongan fase hidup yang sangat dekat dengan realitas anak muda. Enam lagu di dalamnya menjadi medium dialog—bukan untuk menggurui, tapi menemani.
Hadir sejak 2018, 5678things merupakan band yang beranggotakan M. Ilham Ihza Mahendra sebagai gitaris sekaligus penulis lagu, Alverina Gustiani pada vokal yang juga berperan sebagai penulis lagu, Ardian Fikri pada bass, serta Yoel Abeng Pridesta pada drum. Keempatnya berkontribusi membentuk karakter musik yang jujur, ringan, dan terasa personal, dengan keseimbangan antara lirik reflektif dan aransemen yang fun.
Pertama kali mengenal 5678things, banyak orang mungkin akan berhenti sejenak di namanya. Terkesan sederhana, bahkan terdengar seperti belajar berhitung. Namun anggapan itu cepat runtuh ketika memahami bahwa 5678things merujuk pada tahun kelahiran para personilnya—1995, 1996, 1997, dan 1998. Setelah menekan tombol play, satu hal menjadi jelas: nama bukan lagi isu, karena musik mereka berbicara lebih lantang.
Yang menarik, 5678things memilih jalur yang tidak biasa dalam membingkai kesedihan. Hampir seluruh materi di EP ini berbicara tentang fase-fase berat: kegagalan, perasaan sial, jarak emosional, hingga kelelahan mental. Namun alih-alih menyajikannya secara muram, mereka justru membungkusnya dengan aransemen yang ringan, playful, bahkan kadang terdengar “funny”. Sebuah kontras yang terasa jujur dan relevan.
“Sebagian besar lagu di Siuversa; Song Is Our Conversation sebenarnya lahir dari fase-fase yang cukup berat—tentang kegagalan, rasa sial, jarak emosional, sampai kelelahan mental yang sering kami alami sendiri. Akan tetapi kami nggak ingin membungkusnya dengan kesedihan yang berlebihan. Kami justru ingin menghadirkannya dengan cara yang lebih ringan, playful, bahkan terdengar agak ‘funny’, karena di situlah perasaan itu terasa lebih jujur dan dekat dengan keseharian,” ujar Alverina
“Buat kami, kesedihan itu bukan sesuatu yang harus ditutupi atau didramatisasi. Ia ada, dan kami memilih untuk menghadapinya dengan cara kami sendiri. Musik jadi ruang untuk mengolah perasaan-perasaan itu tanpa harus tenggelam di dalamnya—cukup diterima, lalu ditertawakan bersama,” tambah Ilham
Lagu-lagu di Siurversa menghadirkan potret perasaan yang dekat dengan keseharian tanpa perlu drama berlebihan: “Sial” menerjemahkan momen buruk secara jujur dan ringan, “Oh Hello!” menyapa dengan nuansa catchy yang mengingatkan bahwa tidak semua emosi harus ditampilkan muram, sementara “Eye Contact” menangkap chemistry singkat antara dua orang yang cukup disimpan sebagai momen—tanpa kata, tanpa kelanjutan. Melalui “0 Attention”, 5678things menegaskan sikap untuk memilih fokus pada diri sendiri, dengan mengabaikan penilaian dan asumsi dari mereka yang merasa paling tahu, karena tidak semua suara layak diberi ruang. Secara konsep, Siuversa; Song Is Our Conversation terasa sangat generasional. Di era di mana orang hanya ingin terlihat baik-baik saja, 5678things justru menawarkan alternatif: menerima kesedihan, lalu mengolahnya dengan cara yang lebih ringan. Because honestly, nobody really cares how sad you are—so why not turn it into something fun?
Dari sisi musikal, EP ini juga menunjukkan eksplorasi yang matang. Ada dinamika yang terasa konsisten namun tidak monoton. Beberapa lagu menghadirkan nuansa twee pop yang lebih intim, sementara track lainnya bermain di wilayah indie-pop dengan sentuhan ritmis yang segar. Setiap personel terasa hadir, bukan sekadar pengisi instrumen. Dirilis via HeartcornerDengar EP dari 5678things, Siuversa: Song is Our Conversation yang sudah hadir di DSP sejak 1 Januari 2026. -Kemal Ramadhan, edited by Alfan-

DSP: https://open.spotify.com/album/7z0Wfd7p3EDq5UaeEKqlpJ?si=pC60RzVgSgKyY-j4kQOj6Q
YOUTUBE: https://youtube.com/playlist?list=OLAK5uy_l4qaPgtQ64o9rHOHQwNUtJjSSXYVlC6D0&si=2yKr_feexHbmm0Rz





