Osteoporosis Tak Hanya Mengintai Lansia, Dewasa Muda Pun Berisiko

Osteoporosis Tak Hanya Mengintai Lansia, Dewasa Muda Pun Berisiko
Ilustrasi (AI)

Osteoporosis kerap dijuluki silent disease karena penurunan kepadatan tulang biasanya berlangsung tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini baru disadari setelah terjadi patah tulang akibat tulang yang rapuh, yang kemudian dapat berdampak panjang pada kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.

International Osteoporosis Foundation (IOF) memperkirakan osteoporosis berdampak pada sekitar 500 juta orang di dunia. Pada 2025, IOF mencatat lebih dari 37 juta kasus patah tulang akibat kerapuhan tulang terjadi setiap tahun pada orang di atas 55 tahun, setara sekitar 70 kasus per menit. Sepanjang hidupnya, diperkirakan satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang jenis ini.

Bacaan Lainnya

Bukan Hanya Soal Usia Lanjut

Di Indonesia, perhatian terhadap kesehatan tulang semakin relevan seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Pada 2025, IOF bersama Asia Pacific Consortium on Osteoporosis merilis Asia-Pacific Regional Audit yang mencakup Indonesia dan 21 negara/wilayah lain, menyoroti masih adanya kesenjangan penanganan yang mendorong kolaborasi Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) dengan Kementerian Kesehatan untuk mencegah patah tulang berulang.

Yang membuat osteoporosis patut diwaspadai adalah seseorang bisa merasa sehat meski kepadatan tulangnya sudah menurun. Faktor risikonya beragam, mulai dari usia, riwayat patah tulang dan riwayat keluarga, menopause, kurang aktivitas fisik, berat badan rendah, hingga kekurangan kalsium dan vitamin D. WHO menyebut sebagian besar patah tulang pada lanjut usia berkaitan dengan kerapuhan tulang dan bisa terjadi hanya akibat benturan ringan seperti jatuh dari posisi berdiri.

Menariknya, risiko ini tidak eksklusif milik lansia. Sebuah penelitian pada perempuan usia 25-35 tahun di Kota Bogor menunjukkan kepadatan mineral tulang perlu diperhatikan sejak usia muda, karena periode tersebut penting dalam pembentukan massa tulang puncak (peak bone mass). Temuan lain yang dipublikasikan pada 2025 juga mencatat 44,4% orang dewasa di bawah 50 tahun yang menjalani terapi glukokortikoid jangka panjang mengalami osteoporosis akibat terapi tersebut.

Menjaga kesehatan tulang idealnya dimulai sejak dini, bukan menunggu usia lanjut atau sampai terjadi patah tulang. WHO menempatkan asupan nutrisi yang cukup, aktivitas fisik rutin, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, serta pencegahan jatuh sebagai bagian dari strategi mencegah patah tulang akibat kerapuhan. Untuk mengetahui kondisi tulang lebih dini, masyarakat dapat melakukan skrining seperti Panel ProHealthy Bone, BMD (Bone Mineral Density), CTx, N-MID Osteocalcin, atau tes genomik tulang dan sendi di layanan kesehatan terkait.

Sumber: Prodia Health Care.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan