
Industri energi kerap diasosiasikan dengan investasi besar, teknologi canggih, dan kompleksitas operasional. Namun menurut Aryasatya Wishnutama, President Director PT Indelberg Global Energy, ada satu faktor yang kerap terlewat dalam pengambilan keputusan bisnis, yaitu manusia.
Aryasatya memiliki latar belakang lintas disiplin yang tidak biasa untuk seorang pemimpin perusahaan energi. Ia mengantongi gelar Magister Psikologi dengan spesialisasi Psikologi Industri dan Organisasi, sempat berdinas di Dinas Psikologi Angkatan Darat, lalu menjabat Risk & Management Director di sebuah perusahaan migas nasional sebelum memimpin Indelberg Global Energy.
Risiko Bisnis Tak Lepas dari Perilaku Manusia
Menurut Aryasatya, perusahaan sering terlalu fokus pada risiko finansial, operasional, dan pasar, sementara cara individu berpikir dan mengambil keputusan juga sangat menentukan kualitas pengelolaan risiko. Ia menyebut bias kognitif, tekanan kerja, dan dinamika kelompok sebagai faktor yang ikut memengaruhi keputusan organisasi, sehingga penguatan manajemen risiko perlu dibarengi dengan budaya kerja yang sehat dan komunikasi terbuka.
Dari Pengalaman Militer ke Industri Migas
Pengalamannya di lingkungan psikologi militer membentuk cara pandangnya soal kepemimpinan, terutama dalam membaca karakter individu dan membangun kepercayaan dalam organisasi. Pengalaman itu kemudian berlanjut ke sektor migas, tempat ia belajar bahwa manajemen risiko tidak cukup hanya berupa dokumen dan prosedur, tetapi juga membutuhkan kesadaran risiko dan integritas dari orang-orang yang menjalankannya.
Kini sebagai pemimpin Indelberg Global Energy, Aryasatya menilai pertumbuhan bisnis harus ditopang tiga hal sekaligus: strategi yang tepat, pengelolaan risiko yang disiplin, serta sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas. Baginya, teknologi dan sistem manajemen hanya alat bantu, sementara keputusan strategis pada akhirnya tetap bergantung pada manusia yang menafsirkan informasi dan menetapkan prioritas.
Catatan Redaksi. Bias kognitif adalah kecenderungan berpikir yang membuat orang menilai situasi secara tidak objektif, misalnya terlalu percaya diri pada keputusan sendiri atau mengabaikan tanda bahaya karena tekanan target kerja. Dalam industri energi yang padat risiko keselamatan dan operasional, pendekatan manajemen risiko konvensional biasanya berhenti pada prosedur tertulis dan audit teknis, sementara pendekatan yang memasukkan faktor psikologi organisasi mencoba memahami mengapa orang melanggar prosedur meski sudah ada aturan, sehingga intervensinya menyasar budaya kerja dan pola pengambilan keputusan, bukan hanya dokumen.
Sumber: PT Indelberg Global Energy.





