Landed Cost Odoo: Kenapa HPP Impor Sering Lebih Rendah?

Landed Cost Odoo: Kenapa HPP Impor Sering Lebih Rendah?

Perusahaan importir bahan baku kerap mendapati margin keuntungan menyusut begitu barang benar-benar tiba di gudang, meski harga dari pemasok luar negeri tadinya terlihat kompetitif. Penyebabnya, biaya tambahan seperti ongkos angkut, bea masuk, dan kepabeanan baru menempel setelah faktur pembelian diterbitkan, sehingga harga pokok penjualan (HPP) yang dihitung di awal sering lebih rendah dari kenyataan.

Dokumen Biaya yang Datang Terlambat

Tagihan forwarder dan biaya kepabeanan biasanya baru masuk beberapa minggu setelah barang diterima, saat sebagian stok sudah terjual dengan harga pokok sementara. Akibatnya, tim penjualan bisa memberi diskon berdasarkan margin yang belum memperhitungkan seluruh ongkos impor, dan koreksinya baru terasa saat laporan akhir tahun disusun.

Bacaan Lainnya

Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Masuk HPP

Mengacu pada standar akuntansi persediaan PSAK 14, biaya perolehan barang impor mencakup harga beli, bea masuk yang tidak dapat dikreditkan, ongkos angkut dan asuransi, biaya kepabeanan, bongkar muat, hingga penyimpanan di pelabuhan. Sebaliknya, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor dan PPh Pasal 22 impor yang umumnya dapat dikreditkan oleh pengusaha kena pajak tidak seharusnya ditambahkan ke nilai persediaan, karena justru membuat margin produk terlihat lebih kecil dari semestinya.

Mekanisme Landed Cost di Odoo

i2C Studio, Partner Odoo berstatus Silver yang berbasis di Bandung, menjelaskan bahwa fitur biaya tambahan (landed cost) pada Odoo memungkinkan setiap komponen ongkos impor dicatat sebagai produk jasa tersendiri lalu dibebankan ke penerimaan barang terkait. Pembagian biaya dapat diatur berdasarkan berat untuk ongkos angkut laut, volume untuk barang ringan bervolume besar, nilai barang untuk bea masuk dan asuransi, atau dibagi rata untuk biaya dokumen. Mekanisme ini hanya berjalan pada produk dengan metode penilaian persediaan otomatis—FIFO atau rata-rata bergerak—sehingga perusahaan yang masih memakai harga standar perlu menyesuaikan konfigurasi lebih dulu.

Menurut i2C Studio, penataan landed cost sebaiknya dimulai dari pemetaan dokumen impor dan diskusi dengan tim keuangan mengenai struktur biaya, sebelum konfigurasi sistem dikunci. Dengan begitu, nilai persediaan dan margin produk bisa mencerminkan biaya riil sejak awal, bukan hasil koreksi borongan di akhir periode.

Sumber: i2C Studio.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan