Quality Control Odoo: Tolak Produk Cacat Sebelum ke Pelanggan

Quality Control Odoo: Tolak Produk Cacat Sebelum ke Pelanggan

Banyak pabrik baru menyadari ada produk cacat setelah barang diterima pelanggan. Padahal, menurut prinsip biaya mutu, semakin jauh sebuah barang melangkah dalam proses produksi hingga pengiriman, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung ketika cacat baru ketahuan di tahap akhir. Bahan baku yang bermasalah di gudang jauh lebih murah ditangani dibanding produk jadi yang sudah terkirim dan harus ditarik kembali.

Tiga Titik Pemeriksaan yang Sering Terlewat

Secara umum ada tiga kesempatan menyaring produk cacat sebelum sampai ke tangan pelanggan: saat bahan baku diterima dari pemasok, saat proses berlangsung di mesin atau stasiun kerja, dan saat barang jadi disiapkan untuk pengiriman. Pada praktiknya, pemeriksaan bahan baku sering hanya mencocokkan jumlah dengan surat jalan, sementara pemeriksaan akhir kerap dilewati karena kejar tenggat pengiriman — padahal satu kesalahan kecil, misalnya label yang salah, bisa memicu retur satu pengiriman penuh.

Bacaan Lainnya

Masalah lain yang umum terjadi adalah pencatatan hasil pemeriksaan yang masih manual dan berbeda-beda antar regu kerja, sehingga pola kegagalan berulang sulit terlihat dan keputusan perbaikan sering hanya berdasarkan kesan, bukan data. Pendekatan yang mulai banyak diadopsi pabrik adalah memindahkan standar mutu ke dalam sistem ERP seperti Odoo, di mana setiap tahap produksi memiliki titik periksa yang harus dilalui sebelum proses berikutnya bisa berjalan.

Dari Peringatan Mutu ke Tindakan Korektif

Dalam sistem semacam ini, jenis pemeriksaan bisa berupa pengukuran dimensi dengan batas toleransi tertentu, bukan sekadar status lulus atau gagal, dan hasilnya tersimpan sebagai data yang bisa dianalisis. Frekuensi pemeriksaan juga dapat diatur sesuai tingkat risiko produk — acak untuk barang berisiko rendah, menyeluruh untuk komponen kritis. Ketika sebuah pemeriksaan gagal, sistem akan membuat peringatan mutu yang menahan barang sampai ada keputusan penanganan, lengkap dengan uraian masalah, dugaan akar masalah, hingga tindakan korektif — sejalan dengan pendekatan standar manajemen mutu ISO 9001 yang menekankan perbaikan berbasis akar masalah, bukan dugaan semata.

Data pemeriksaan semacam ini juga berguna untuk mengevaluasi kinerja pemasok dari waktu ke waktu, karena riwayat penolakan bahan baku tersimpan bersama dokumen penerimaan barang. i2C Studio, konsultan yang berstatus Odoo Silver Partner dan berbasis di Bandung, menyebut penerapan sistem ini sebaiknya dimulai dari produk yang paling sering dikomplain, lalu diperluas secara bertahap setelah operator terbiasa dengan alur kerjanya.

Catatan Redaksi. Prinsip biaya mutu yang disebut di artikel biasa dikenal sebagai kurva 1:10:100, biaya perbaikan melonjak sekitar sepuluh kali lipat setiap kali cacat baru terdeteksi satu tahap lebih jauh dalam rantai produksi hingga distribusi. Artikel ini bersumber dari i2C Studio, konsultan Odoo yang menyediakan jasa implementasi sistem semacam ini.

Sumber: i2C Studio.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan