Penumpang KAI Bandara Tembus 5,1 Juta pada Triwulan III 2026

Penumpang KAI Bandara Tembus 5,1 Juta pada Triwulan III 2026
Ilustrasi (AI)

PT Railink, operator layanan KAI Bandara, mencatat sebanyak 5,1 juta penumpang menggunakan layanan kereta api bandara sepanjang triwulan III tahun 2026. Capaian ini menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat yang mengandalkan transportasi kereta menuju dan dari kawasan bandara di dua wilayah layanan, yakni Sumatera Utara dan Yogyakarta.

Sebaran Penumpang di Dua Wilayah

Dari total tersebut, wilayah Sumatera Utara menyumbang 3,2 juta penumpang, sementara Yogyakarta mencatat 1,9 juta penumpang. Angka di Yogyakarta dihitung hingga 16 September 2026, menyusul pengalihan operasional layanan KAI Bandara di wilayah tersebut kepada KAI Commuter yang mulai berlaku 17 September 2026. Railink menegaskan pengalihan ini tidak mengubah layanan yang diterima penumpang, baik rute, tarif, maupun jadwal perjalanan kereta.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Direktur Utama PT Railink, Porwanto Handry Nugroho, menyatakan capaian ini mencerminkan konsistensi masyarakat memilih kereta bandara sebagai sarana mobilitas. Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang terus diberikan pengguna jasa terhadap layanan tersebut.

Puncak Penumpang di Musim Mudik

Berdasarkan data pergerakan penumpang, bulan Maret 2026 tercatat sebagai periode dengan jumlah penumpang tertinggi, yaitu sekitar 633 ribu orang. Lonjakan ini dipicu oleh peningkatan perjalanan masyarakat selama libur serta arus mudik dan balik Lebaran.

Railink menyebut capaian triwulan III 2026 sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan transportasi yang aman, nyaman, tepat waktu, dan terintegrasi dengan moda transportasi lain, guna memperkuat konektivitas masyarakat menuju kawasan bandara.

Catatan Redaksi. KAI Bandara di Yogyakarta dan Sumatera Utara sebelumnya dioperasikan Railink, anak usaha PT KAI yang khusus menjalankan layanan kereta bandara, sementara KAI Commuter adalah operator kereta perkotaan milik grup yang sama. Pengalihan operasional semacam ini lazim dilakukan untuk menyatukan pengelolaan moda kereta dalam satu wilayah tanpa mengubah tarif maupun jadwal bagi penumpang. Lonjakan penumpang pada Maret 2026 sejalan dengan pola tahunan, karena periode mudik Lebaran selalu menjadi masa perjalanan tersibuk di hampir semua moda transportasi di Indonesia.

Sumber: PT Railink.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan