58% Konsumen AS Pakai AI untuk Riset Belanja pada 2026

58% Konsumen AS Pakai AI untuk Riset Belanja pada 2026
Ilustrasi (AI)

Perilaku konsumen dalam mencari dan mempertimbangkan produk mulai bergeser. Jika dulu perjalanan belanja banyak dimulai dari mesin pencari, kini kecerdasan buatan (AI) semakin sering menjadi titik awal riset sebelum membeli.

Laporan The B2C Buyer Experience Report 2026 dari Invoca mencatat 58% konsumen di Amerika Serikat menggunakan generative AI untuk meneliti pembelian berisiko tinggi pada 2026, naik dari 41% tahun sebelumnya. Riset Boston Consulting Group terhadap lebih dari 13.000 konsumen di 12 pasar juga menemukan 31% konsumen global sudah memakai AI setidaknya sesekali dalam perjalanan belanja mereka.

Bacaan Lainnya

Dari Klik ke Jawaban AI

Pergeseran ini terjadi bersamaan dengan menurunnya ketergantungan pada klik hasil pencarian tradisional. Analisis SparkToro berbasis data Similarweb menunjukkan 68,01% pencarian Google di AS pada Januari-April 2026 berakhir tanpa klik ke situs eksternal, seiring makin banyak jawaban yang langsung dirangkum AI.

Dampaknya terasa pada brand: data Net Conversion 2026 menyebut 74% konsumen yang memakai AI untuk riset mengaku rekomendasi AI memperluas jumlah brand yang mereka pertimbangkan. BCG bahkan menemukan AI memperkenalkan brand baru yang sebelumnya tidak dipertimbangkan dalam sekitar 63% perjalanan belanja yang dibantu AI.

“Dulu kita bisa melihat visibility dengan cukup sederhana. Brand muncul di Google, orang klik, lalu kita bisa mengukur traffic-nya. Di AI, prosesnya berbeda. Konsumen bisa mendapatkan jawaban tanpa pernah mengunjungi situs kita,” ujar Alexandro Wibowo, Partner di Avonetiq.

Mengukur Posisi Brand di Jawaban AI

Menjawab kebutuhan ini, Avonetiq mengembangkan platform AVO AI yang membantu bisnis mengukur dan meningkatkan cara brand ditemukan serta direkomendasikan oleh berbagai sistem AI seperti ChatGPT, Perplexity, Google AI Overviews, Claude, Gemini, dan DeepSeek. Platform ini mengukur Visibility Score berdasarkan prompt yang relevan dengan perjalanan konsumen, sekaligus menyusun Prompt Book untuk memantau bagaimana brand dan kompetitor muncul dalam jawaban AI.

“Yang perlu dilihat bukan hanya berapa kali nama brand muncul. Kita perlu memahami apakah AI mengenali brand sesuai dengan positioning yang ingin dibangun,” jelas Alexandro.

Sumber: Avonetiq.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan