
Platform perdagangan aset keuangan digital FLOQ meluncurkan fitur baru bernama KOL Watchlist. Fitur ini memungkinkan pengguna melihat daftar aset kripto yang sedang dipantau oleh sejumlah key opinion leader (KOL) di industri kripto, sebagai sarana informasi dan edukasi khususnya bagi investor pemula.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan fitur ini dikembangkan karena banyak pemula selama ini mengambil keputusan investasi dari potongan video atau unggahan media sosial yang sumbernya tidak jelas. Dengan KOL Watchlist, identitas KOL dipastikan jelas karena setiap akun yang tampil harus telah melalui proses verifikasi identitas atau know your customer (KYC), lengkap dengan keterangan waktu pembaruan daftar terakhir.
Tiga KOL di Daftar Awal
Pada tahap awal, fitur ini menampilkan tiga tokoh yang diurutkan berdasarkan jumlah kunjungan ke halaman masing-masing di aplikasi FLOQ. Kalimasada, edukator sekaligus salah satu pendiri komunitas Akademi Crypto, mencatat 126.400 kunjungan. Andreas Tobing, kreator konten blockchain dan Web3 di berbagai platform media sosial, memperoleh 109.000 kunjungan. Sementara Andy, investor kripto sejak 2017 dan penggagas komunitas Crypstocks, mencatat 97.600 kunjungan. Setiap daftar berisi sekitar lima hingga sepuluh aset kripto, termasuk Bitcoin dan Ethereum.
Peluncuran fitur ini bertepatan dengan satu tahun operasional FLOQ, dengan jumlah pengguna yang disebut telah mencapai 1,8 juta dan total dana yang disetorkan melampaui Rp1 triliun. Perusahaan juga mengklaim meraih penghargaan sebagai exchange kripto dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia pada 2025, predikat Top Compliance pada 2026, serta pendanaan sebesar 11 juta dollar AS.
Perhatikan Risiko
Yudho menegaskan bahwa watchlist bukan rekomendasi investasi, melainkan sekadar daftar pantauan yang bisa saja keliru mengingat pasar kripto bergerak cepat. FLOQ mengimbau pengguna untuk tetap melakukan riset mandiri terhadap proyek, tim pengembang, dan likuiditas aset sebelum bertransaksi, menggunakan dana yang tidak dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari, serta menghindari keputusan yang didorong oleh fear of missing out (FOMO). Peluncuran ini muncul di tengah peningkatan aktivitas kripto nasional, dengan data OJK mencatat nilai transaksi aset kripto pada Agustus 2026 mencapai Rp23,16 triliun, naik 12,87 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sumber: FLOQ.





