
BTSE Indonesia menyoroti pentingnya literasi kecerdasan buatan (AI), kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan finansial bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Hal ini disampaikan dalam panel diskusi “Impact of AI on Your Future Career” pada ajang BINUS Crypto Week yang berlangsung 26 September 2026 di Jakarta.
Chief Technology Officer BTSE Indonesia, Muhammad Wendy Taufiq Hidayah, mengatakan generasi talenta masa depan tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara bertanggung jawab. Menurutnya, AI dapat membantu manusia bekerja lebih efektif, namun kemampuan menilai informasi dan mengambil keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia sepenuhnya.
Literasi Finansial Jadi Sorotan
Wendy menambahkan bahwa literasi teknologi dan literasi finansial memiliki prinsip yang sama, yakni tidak serta-merta menerima informasi atau mengikuti tren tanpa memahami manfaat dan risikonya terlebih dahulu. Pernyataan itu merujuk pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 22,4 juta per Mei 2026, dengan nilai transaksi mendekati Rp122 triliun dalam lima bulan pertama tahun ini. OJK mencatat mayoritas pengguna aset kripto di Tanah Air adalah generasi muda.
Pembahasan dalam panel tersebut juga merujuk pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, yang menempatkan AI, big data, keamanan siber, dan literasi teknologi sebagai keterampilan dengan permintaan tercepat hingga 2030.
Kampanye Cashback Trading
Di luar agenda literasi, BTSE Indonesia juga menjalankan kampanye “Trade Dapet Cashback Batch 2” pada 24 September hingga 10 Oktober 2026. Pengguna yang telah menyelesaikan verifikasi KYC Level 1 dan melakukan transaksi pertama dengan nilai minimal Rp1 juta berkesempatan mengikuti lucky draw cashback sebesar 25 persen, tidak berlaku untuk pasangan IDR/USDT. BTSE Indonesia mengingatkan bahwa dana yang dipakai untuk trading harus berasal dari dana pribadi, bukan dari utang atau pinjaman, dan pengguna perlu memahami risiko aset kripto sebelum mengambil keputusan.
Sumber: BTSE Indonesia.





