
Iklim investasi Indonesia masih menunjukkan tren positif menjelang 2026. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada Triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan, didorong oleh minat investor domestik maupun asing yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Tren serupa juga terlihat di tingkat daerah. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Riau mencatat realisasi investasi provinsi tersebut pada kuartal pertama 2026 menembus Rp12,85 triliun, dengan industri makanan dan minuman menjadi sektor paling dominan.
Derasnya arus investasi ini mendorong semakin banyak brand F&B, baik lokal maupun asing, mempercepat ekspansi cabang ke berbagai kota. Namun penambahan jumlah gerai tidak selalu berbanding lurus dengan profitabilitas. Sejumlah pelaku usaha F&B justru mulai kehilangan kendali operasional begitu jumlah cabangnya bertambah.
Akar Masalah Ada di Tahap Konstruksi
Menurut Henri Kristanto Pribadi, Direktur PT Ardeco Karya Global (Ardeco), kontraktor sipil dan interior yang menangani berbagai proyek F&B dan ritel di Jakarta, persoalan ini kerap dianggap murni soal manajemen operasional atau sistem digital. Padahal, akar masalahnya sering muncul jauh sebelum cabang baru beroperasi, yakni pada tahap persiapan fisik dan perencanaan ruang.
“Banyak brand yang sudah matang di sisi bisnis, menu, dan pemasaran, tapi baru memikirkan kebutuhan fisik ruangnya belakangan. Padahal perencanaan konstruksi itu yang paling banyak makan waktu, mulai dari survei lokasi, pengurusan izin, sampai penyesuaian desain dengan standar brand,” ujar Henri.
Ardeco menyebut aspek yang kerap terlewat bukan hanya survei lokasi dan legalitas bangunan, tetapi juga kesesuaian tata ruang dengan alur operasional harian, seperti jalur kerja dapur, sirkulasi pengunjung, hingga kebutuhan listrik dan utilitas khusus untuk peralatan F&B. Menurut Henri, keterlibatan kontraktor sejak tahap perencanaan awal, bukan hanya saat pembangunan dimulai, dapat membantu brand menghindari perubahan desain mendadak maupun pembengkakan biaya di tengah proyek.
Dengan tren pertumbuhan F&B yang diproyeksikan terus berlanjut sepanjang 2026, kesiapan dari sisi konstruksi dan tata ruang disebut akan menjadi pertimbangan yang semakin penting bagi brand yang ingin memastikan ekspansi cabangnya berjalan sesuai rencana.
Catatan Redaksi. Artikel ini bersumber dari siaran pers Ardeco, kontraktor yang menyediakan jasa konstruksi dan interior yang dibahas di dalamnya. Perlunya keterlibatan kontraktor sejak tahap perencanaan sendiri berkaitan dengan konsep tata ruang dapur atau kitchen workflow, yakni pengaturan alur kerja memasak, penyimpanan, dan penyajian agar efisien, yang di industri F&B lazim dirancang bersamaan dengan kebutuhan listrik berdaya besar untuk peralatan seperti kompor induksi atau mesin pendingin, bukan ditambahkan belakangan setelah bangunan berdiri.
Sumber: PT Ardeco Karya Global (Ardeco).





