
Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, didapuk sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia yang diminta memaparkan perspektif pengelolaan air minum perpipaan dalam Private CEO Roundtable di New York. Forum ini berlangsung di sela rangkaian Sidang Umum PBB ke-81 (81st UN General Assembly) pada 22 September 2026, atas undangan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab selaku penyelenggara.
Dalam forum yang mempertemukan sejumlah CEO dan pemimpin bisnis global tersebut, dibahas berbagai isu strategis seputar investasi air sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan infrastruktur masa depan. Arief membawa konteks Jakarta ke dalam diskusi, menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur air, peningkatan kualitas layanan, dan keberlanjutan sumber daya air merupakan bagian tak terpisahkan dari agenda pertumbuhan kota.
Baca juga:
- Arief Nasrudin Wakili RI di Forum CEO PBB, Bahas Air Jakarta
- PAM JAYA Wakili Indonesia di Forum Air PBB New York
Target Cakupan Layanan 2029
PAM JAYA menargetkan cakupan layanan air minum perpipaan mencapai 100 persen pada 2029, dengan pengembangan kapasitas produksi hingga 32.950 liter per detik dan jaringan perpipaan sepanjang 16.234 kilometer. Perluasan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah dan penurunan permukaan tanah, sekaligus memperkuat ketahanan Jakarta terhadap perubahan iklim.
Revitalisasi jaringan pipa yang sebagian besar sudah berusia lebih dari dua dekade juga menjadi perhatian utama guna menekan kehilangan air atau non-revenue water (NRW). Dalam kesempatan di New York, PAM JAYA turut melakukan penjajakan awal dengan sejumlah pemimpin bisnis terkait creative financing sebagai alternatif pendanaan pengembangan infrastruktur air, serta membuka peluang kolaborasi di sektor water cooling untuk kebutuhan data center.
Transformasi digital juga menjadi bagian dari modernisasi layanan PAM JAYA, melalui pemanfaatan smart water meter, integrated billing system, dan enterprise resource planning (ERP) untuk mendukung efisiensi dan akurasi data. “Air bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi merupakan fondasi bagi kehidupan, kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Arief.
Catatan Redaksi. Non-revenue water atau kehilangan air adalah selisih antara air yang diproduksi dan yang benar-benar tertagih ke pelanggan, biasanya akibat kebocoran pipa tua atau pencurian, sehingga revitalisasi jaringan pipa berusia puluhan tahun berkaitan langsung dengan efisiensi keuangan perusahaan air. Sementara itu, water cooling untuk data center merujuk pada penggunaan air sebagai media pendingin server, kebutuhan yang meningkat seiring pertumbuhan pusat data, sehingga menjadikannya potensi pasar baru di luar penjualan air rumah tangga.
Sumber: PAM JAYA.





