
BINUS University menggelar BINUS HR Tech Summit 2026 sebagai forum lintas sektor yang mempertemukan pemimpin industri, praktisi Human Resources (HR), pakar teknologi, akademisi, dan pemerintah. Acara ini mengangkat tema “HR Tech Beyond Automation: The Rise of Agentic AI”, membahas bagaimana kecerdasan buatan (AI) mengubah wajah dunia kerja ke arah yang lebih adaptif dan inovatif tanpa meninggalkan sisi kemanusiaan.
Gelaran ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan 45 tahun perjalanan BINA NUSANTARA dalam berkontribusi bagi Indonesia melalui pendidikan, inovasi, dan kolaborasi.
Teknologi untuk Memperkuat Peran Manusia
President of BINUS Higher Education, Stephen Wahyudi Santoso, menyebut summit ini sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif industri, HR, teknologi, dan pendidikan. Menurutnya, forum semacam ini bukan sekadar membahas teknologi, melainkan mempertemukan orang-orang agar bisa saling belajar dan menemukan peluang kolaborasi baru.
Senada dengan itu, Rektor BINUS University menekankan bahwa perkembangan AI membawa perubahan besar pada cara manusia bekerja, memimpin, dan mengembangkan talenta. Tantangan utamanya bukan sekadar bagaimana manusia memakai AI, melainkan bagaimana teknologi bisa memperkuat peran manusia untuk menciptakan dampak yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa masa depan bukan soal manusia melawan AI, melainkan soal apa yang bisa dicapai manusia bersama AI.
Kompetensi yang Makin Dibutuhkan
Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap AI, big data, dan literasi teknologi, kemampuan seperti berpikir analitis, berpikir kreatif, ketahanan diri, kepemimpinan, serta rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat dinilai makin penting. Talenta masa depan, menurut BINUS, bukan hanya mereka yang mahir memakai teknologi, tapi juga yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, berkolaborasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
BINUS HR Tech Summit 2026 tercatat menghadirkan lebih dari 1.200 pengunjung, 500 perwakilan industri, 15 pembicara, 7 sesi diskusi, dan 20 exhibitor, dengan rangkaian konferensi, pameran, dan sesi networking seputar kecerdasan buatan, transformasi digital, manajemen talenta, people analytics, hingga masa depan pekerjaan.
Catatan Redaksi. Agentic AI merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang tidak sekadar merespons perintah, tapi bisa menyusun langkah, mengambil keputusan kecil, dan menjalankan tugas secara mandiri untuk mencapai tujuan tertentu. Ini beda dari otomasi biasa yang hanya menjalankan aturan tetap, sehingga penerapannya di HR memungkinkan sistem membantu proses seperti rekrutmen atau analisis talenta dengan penyesuaian mandiri, bukan sekadar mempercepat pekerjaan berulang.
Sumber: BINUS University.





