Kenapa Sculpture Arsitektural Gagal Dibangun? Ini Kata Spasium

Kenapa Sculpture Arsitektural Gagal Dibangun? Ini Kata Spasium

PT Spasium Kreasi Indonesia, studio yang berfokus pada sculpture dan custom artwork arsitektural, menyoroti fenomena banyaknya karya sculpture skala arsitektural yang berhenti sebagai render digital dan tidak pernah benar-benar dibangun. Menurut perusahaan ini, penggunaan model 3D dalam presentasi desain interior sering membuat klien mengira visual tersebut sudah merupakan desain final, padahal kelayakan produksinya belum tentu teruji.

Dion Masli, Direktur Utama Spasium, menjelaskan bahwa tidak semua desain yang tampak indah di render siap diwujudkan di dunia nyata. Dalam sejumlah proyek, timnya memilih mengembangkan ulang ide awal agar karya tetap memiliki karakter dan cerita yang kuat, sekaligus realistis untuk diproduksi dan dipasang.

Bacaan Lainnya

Enam Tahap Realisasi Karya

Spasium merumuskan proses realisasi artwork arsitektural yang ideal melalui enam tahap: memahami konsep dan kebutuhan ruang, studi teknis dan struktur, eksplorasi material dan finishing, pembuatan mockup dan prototipe, koordinasi dengan arsitek, insinyur sipil, dan kontraktor, hingga tahap review serta penyempurnaan akhir sebelum karya siap dipasang.

Pendekatan ini telah diterapkan pada berbagai proyek residensial dan komersial di Jabodetabek serta sejumlah kota besar lain, mulai dari sculpture skala landmark di area publik hunian hingga karya untuk residensi privat. Rata-rata pengerjaan satu karya memakan waktu 2,5 hingga 3 bulan, dengan pemilihan material yang mempertimbangkan ketahanan jangka panjang, salah satunya painted steel untuk instalasi luar ruang.

Spasium mendorong pelaku industri properti, arsitek, dan desainer interior untuk melibatkan pertimbangan teknis dan produksi sejak tahap awal perencanaan artwork, bukan di akhir proyek, guna menghindari revisi berulang, pembengkakan biaya, dan mundurnya jadwal penyelesaian.

Catatan Redaksi. Render 3D dibuat untuk memperlihatkan bentuk dan pencahayaan secara meyakinkan, tapi tidak otomatis memperhitungkan kekuatan struktur, sambungan material, atau cara benda itu berdiri menahan beban dan cuaca nyata, sehingga sering disebut gap antara desain visual dan constructability. Untuk sculpture luar ruang, pemilihan logam seperti painted steel juga menyangkut ketahanan terhadap karat dan pemuaian akibat panas, bukan sekadar tampilan warna akhirnya.

Sumber: PT Spasium Kreasi Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan