RI-India Didorong Perkuat Kerja Sama SDM dan Pendidikan

RI-India Didorong Perkuat Kerja Sama SDM dan Pendidikan
Ilustrasi (AI)

Hubungan Indonesia dan India semakin erat menyusul kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada 6–8 Juli 2026 atas undangan Presiden Prabowo Subianto. Kunjungan ini merupakan lawatan resmi pertama Modi ke Indonesia sejak Prabowo menjabat, sekaligus melanjutkan hubungan hangat yang terjalin sejak kunjungan kenegaraan Prabowo ke India pada Januari 2025.

Selain menandatangani sejumlah kesepakatan bilateral, pertemuan kedua pemimpin dinilai mencerminkan semakin strategisnya posisi hubungan Indonesia–India di tengah pergeseran lanskap geopolitik dan ekonomi Indo-Pasifik. Sejumlah agenda prioritas yang telah disepakati sebelumnya mencakup kerja sama pertahanan, perdagangan dan investasi, keamanan maritim, teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), hingga sektor kesehatan dan pendidikan.

Bacaan Lainnya

Perdagangan India-ASEAN Meningkat Pesat

Dalam satu dekade terakhir, pendekatan India terhadap Asia Tenggara bergeser dari sekadar diplomasi Look East Policy menjadi Act East Policy yang lebih ambisius. Nilai perdagangan antara India dan ASEAN pun melonjak hampir dua kali lipat, dari sekitar US$76 miliar pada 2014 menjadi US$140 miliar pada 2024, dengan ASEAN kini menyumbang sekitar 11 persen dari total perdagangan global India. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia menjadi jangkar utama dalam hubungan ekonomi yang terus berkembang tersebut, seiring tren pergeseran rantai pasok global yang mendorong strategi diversifikasi manufaktur seperti China+1.

Pengembangan SDM Dinilai Jadi Kunci

Di luar isu dagang dan pertahanan, pengembangan sumber daya manusia disebut sebagai bidang kerja sama yang menjanjikan namun belum banyak mendapat perhatian. Kedua negara sama-sama memiliki populasi muda yang besar dan membutuhkan lapangan kerja berkualitas. Indonesia dinilai memiliki tenaga kerja produktif namun masih menghadapi tantangan pada level talenta manajerial, sementara India memiliki ekosistem pendidikan berbasis pengetahuan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Sejumlah universitas Indonesia seperti Universitas Indonesia, UGM, ITB, dan IPB telah menjalin nota kesepahaman dengan institusi pendidikan tinggi India seperti IIT dan IIM, namun kemitraan berskala besar dinilai masih kalah dibanding kerja sama Indonesia dengan Australia, Jepang, Tiongkok, Singapura, maupun Amerika Serikat. Peluang yang dinilai lebih strategis mencakup pendidikan eksekutif bersama, akademi AI dan keterampilan digital, pusat riset gabungan, hingga kemitraan segitiga dengan perguruan tinggi Singapura untuk melayani kebutuhan kawasan Asia Tenggara secara lebih luas.

Catatan Redaksi. Look East Policy dan Act East Policy adalah dua fase strategi luar negeri India terhadap Asia Tenggara: yang pertama sejak 1990-an berfokus membuka hubungan dagang, yang kedua sejak 2014 diperluas mencakup kerja sama pertahanan dan keamanan maritim. Adapun istilah China+1 merujuk pada strategi perusahaan global menempatkan sebagian rantai produksinya di luar China untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara, sehingga negara seperti Indonesia dan India sama-sama diuntungkan sebagai tujuan alternatif investasi manufaktur.

Sumber: Shoeb Kagda, Country Director Singapore Management University (SMU) Indonesia Office dan Co-Founder Indonesia Economic Forum.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan