
Peran contact center kini bergeser dari sekadar pusat penanganan keluhan menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan bisnis. Di tengah tuntutan layanan yang cepat, personal, dan tersedia kapan saja, transcosmos Indonesia (TCID) memperkenalkan trans-AI Chat, solusi customer engagement berbasis Large Language Model yang dirancang untuk menghadirkan interaksi pelanggan yang lebih natural dan efisien.
Peluncuran ini disampaikan dalam acara TransTalk Vol.4 bertajuk “From Cost Center to Revenue Driver: How AI is Transforming Customer Operations into Business Growth”. Menurut Vice President Director transcosmos Indonesia, Ardi Sudarto, perusahaan saat ini dituntut tidak hanya responsif, tetapi juga mampu menghasilkan insight dan peluang pertumbuhan baru melalui teknologi Generative AI.
Lima Perubahan Utama
trans-AI Chat membawa sejumlah kemampuan baru, di antaranya percakapan yang lebih natural lewat fitur AI Personality yang dapat disesuaikan dengan identitas brand, hingga follow-up otomatis kepada calon pelanggan melalui AI Follow-up Message Automation. Fitur AI Image Analysis juga memungkinkan sistem menganalisis gambar yang dikirim pelanggan untuk mempercepat proses troubleshooting.
Di sisi lain, fitur AI Agent Assist membantu agen manusia melalui ringkasan percakapan otomatis dan eskalasi cerdas, sehingga pelanggan tidak perlu mengulang penjelasan saat ditangani agen. General Manager IT Solution transcosmos Indonesia, Dimas Aditama, menekankan bahwa AI dirancang untuk mengambil alih pekerjaan repetitif agar agen dapat fokus pada solusi dan hubungan dengan pelanggan.
Lebih jauh, AI Dashboard memungkinkan perusahaan memantau tren pertanyaan dan sentimen pelanggan secara real-time, sementara fitur Unknown Keyword Detection membantu sistem terus memperbarui basis pengetahuannya. Solusi ini diklaim dapat diterapkan di berbagai sektor, mulai dari otomotif, retail, perbankan, hingga layanan kesehatan.
Catatan Redaksi. Large Language Model (LLM) adalah model bahasa yang dilatih dari data teks dalam jumlah besar sehingga bisa memahami konteks dan menyusun jawaban yang menyerupai percakapan manusia, bukan sekadar mencocokkan kata kunci seperti chatbot lama. Kemampuan seperti menganalisis gambar atau meringkas percakapan otomatis muncul karena model semacam ini bisa memproses berbagai jenis input sekaligus mempelajari pola dari interaksi sebelumnya, sehingga sistem bisa terus diperbarui tanpa perlu diprogram ulang secara manual untuk tiap kasus baru.
Sumber: transcosmos Indonesia.





