
Malang, 5 Januari 2026 – Mendengar nama Gunung Kawi, beberapa hal yang mungkin terlintas di pikiran masyarakat Indonesia adalah angker, mistis, serta pesugihan. Stereotip yang berkembang di masyarakat ini coba dipatahkan oleh seorang musisi asal Gunung Kawi yakni Matoha Mino.
Seniman berusia 57 tahun tersebut berujar, “Ide lagu ini sebenarnya sudah mengendap di kepala saya sejak 2005–2008, waktu itu sering banget dengar orang-orang bilang “Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo dan setan”. Ada pula yang bilang “orang yang ke Gunung Kawi pasti cari duit ghaib”. Saya yang lahir dan besar di Gunung Kawi (tepatnya Desa Wonosari), rasanya kesel sekali stereotip itu terus dipelihara film-film horor dan sinetron.”
Terdorong oleh keinginan yang kuat itu, ayah kandung dari penyanyi Madukina dan musisi Hanafi Madu W. ini pun menciptakan lirik-lirik yang menunjukkan pesona Gunung Kawi sebagai tempat ziarah para pahlawan yakni Eyang Djoego dan Eyang Soejono (RM Iman Soedjono) yang merupakan laskar dari Pangeran Diponegoro saat masa perjuangan melawan Belanda.
“Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini tempat ziarah, tempat berdoa, tempat wisata ritual yang bahkan dikunjungi tamu mancanegara,” tegas Matoha.
Lewat bait-bait lagunya, ia mengajak masyarakat untuk kembali kepada esensi doa yang benar yakni berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sambil tetap berusaha keras. Wisata ziarah ini pun menurutnya hanya secuil sisi dari Gunung Kawi yang baru ia eksplorasi lewat lagu. Masih banyak esensi dan nilai dari gunung yang terletak di Kabupaten Malang ini yang bisa digaungkan lebih luas lewat seni.
Matoha yang sebelumnya juga menjadi dalang di balik lagu soundtrack film “KKN: Desa Penari” kembali memasukkan unsur-unsur musik gamelan Jawa. Namun kali ini, ia mengkombinasikan gamelan dengan unsur musik Islami dengan iringan terbangan (red: musik sholawatan). Penulisan lirik memakan waktu dua minggu dan dibantu oleh rekan musisi Alm. Bapak Irwan Sumadi. Ketika rampung, Matoha mengajak grup musik Islami Tajidor (Terbang Jidor) yang bernama “Kyai Zakaria” untuk latihan. Gamelan, drum, viola, keyboard, dan perkusi turut menghiasi dinamika lagu “Gunung Kawi” yang dimainkan sendiri oleh Matoha dan sang putra Hanafi Madu W. Sang istri yakni Ibu Dwi Siswa turut andil dalam mengkoordinasi paduan suara anak-anak di sekitar perumahan Matoha Mino untuk menyumbangkan suaranya di lagu “Gunung Kawi”. Tak mau ketinggalan, sang putri Madukina membantu mengarahkan jenis dan model vokal sebelum dan saat rekaman, serta memandu sang ayah dalam memilih busana, gaya, sampul dari single serta strategi perilisan digital lagu ini. Selain dikerjakan dengan bantuan banyak pihak, sang musisi juga memiliki tujuan untuk merangkul lebih banyak massa lewat lagunya yang berbahasa Indonesia.
“Beda dengan waktu membuat ‘Dhat’ dulu yang berisikan bahasa Jawa dan Sansekerta kuno, saya memang sengaja menulis lagu ini dengan bahasa Indonesia agar dimengerti lebih banyak orang. Karena pertama, tujuan saya adalah meluruskan stigma dan stereotip, jadi bahasa yang universal saya rasa penting untuk digunakan. Kedua, saya ingin lirik lagu ini benar-benar sederhana dan selugas mungkin untuk menghindari salah paham dan interpretasi ganda. Terakhir, saya ingin lagu ini bisa dinyanyikan bersama-sama, dengan lirik dan melodi yang mudah sehingga bisa tersebar makin masif dan diresapi para pendengarnya,” jelas Matoha.
“Gunung Kawi” resmi dirilis secara digital di penghujung tahun 2025 yakni 31 Desember di berbagai layanan streaming digital.





