Di Balik Kue Lebaran, Ada Perjalanan Listiyani Bersama LKMS BWM Al Muna Berkah Mandiri

Di Balik Kue Lebaran, Ada Perjalanan Listiyani Bersama LKMS BWM Al Muna Berkah Mandiri
BSI Maslahat

Yogyakarta, 2 April 2026 – Di sudut kawasan Krapyak Kulon, Yogyakarta, aroma kue  rumahan tercium dari sebuah dapur sederhana. Dari sanalah Listiyani (48) merintis  harapan, pelan namun pasti. Perempuan asal Temanggung ini telah menekuni usaha  jajanan pasar selama kurang lebih empat tahun terakhir.  

Dari dapurnya yang sederhana, ia memproduksi aneka kue seperti kue kacang, kue  semprit, hingga emping jagung. Sementara untuk kue kering Lebaran, ia mulai  merintisnya sejak dua tahun terakhir, biasanya berdasarkan pesanan.

“Untuk kue  lebaran, saya belum berani produksi banyak, masih sesuai pesanan saja,” tutur  Listiyani. 

Dalam sebulan, usaha kecilnya mampu menghasilkan omzet sekitar Rp1,5 juta hingga  Rp2 juta, dengan keuntungan berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Angka yang  sederhana, namun sangat berarti bagi keberlangsungan ekonomi keluarganya. 

BSI Maslahat

Usaha yang Terus Berubah, Tantangan yang Tetap Ada 

Perjalanan usaha Listiyani tidaklah selalu mulus, sebelumnya ia telah mencoba  berbagai jenis usaha. Sebelum fokus pada usaha kue, ia sempat menjalankan usaha  laundry. Di waktu lain, ia juga membantu usaha suaminya yang bergerak di bidang  pembuatan pilar beton. 

Namun kondisi usaha sang suami yang tak lagi seramai dulu membuat kondisi  ekonomi keluarga pun ikut terdampak. Bahkan, untuk bertahan, sang suami kini juga  menjalankan usaha angkringan. 

Di tengah situasi tersebut, Listiyani harus pintar membagi keuangan, terutama dana  untuk modal usaha yang kerap kali bercampur dengan kebutuhan rumah tangga.  

“Kendala utama yang sangat terasa selama saya menjalani usaha ada di modal.  Kadang modalnya harus terpakai untuk memenuhi kebutuhan harian,” ungkapnya. 

Tak hanya soal modal, ia juga menghadapi tantangan lain seperti kurangnya  pemahaman mengenai strategi pemasaran dan cara mendapatkan pelanggan tetap,  kendala yang kerap dialami oleh pelaku usaha mikro. 

Menemukan Jalan Bersama BWM Titik perubahan mulai terasa sejak Listiyani bergabung dengan LKMS BWM Al Muna  Berkah Mandiri pada tahun 2020 yang diinisiasi oleh BSI Maslahat. Ia mengetahui  program tersebut dari seorang teman, lalu memutuskan untuk bergabung. Ia berharap  melalui BWM ini ia dapat menemukan harapan baru demi keberlangsungan usahanya.

Melalui program BWM, ia memperoleh pembiayaan sebesar Rp3 juta yang digunakan  untuk mendukung keberlangsungan usahanya. Namun lebih dari itu, bagi Listiyani  BWM bukan sekadar tempat mendapatkan modal.

“Manfaatnya tidak hanya  pembiayaan untuk modal usaha. Di sini saya juga jadi menambah teman, silaturahmi  melalui kajian agama yang rutin dilakukan, serta dapat ilmu yang sangat cocok bagi  kami para pelaku usaha kecil yang mau mengembangkan usahanya supaya naik  kelas” ungkapnya. 

Setiap minggu, ia rutin mengikuti pertemuan halaqoh mingguan (HALMI) bersama  para nasabah lain. Dalam pertemuan tersebut, mereka tidak hanya melakukan  pembayaran angsuran, tetapi juga mendapatkan pembinaan. Mulai dari kajian  keagamaan hingga materi praktis seperti strategi pemasaran usaha menjadi bekal  berharga yang ia rasakan langsung manfaatnya dari program ini. 

Selain pemberian materi strategi usaha, bagi Listiyani, perubahan terbesar juga terasa  dalam dirinya dari aspek spiritualitas.

“Adanya kajian ilmu agama rutin setiap minggu,  dulunya saya hafal Asmaul Husna hanya beberapa, sekarang hampir 99 sudah hafal,”  ucapnya penuh rasa syukur. 

Pertumbuhan spiritual ini berjalan seiring dengan perkembangan usahanya. Ia juga  merasakan lingkungan pertemanan yang semakin luas dan suportif. Ia meyakini  bahwa keberkahan menjadi salah satu hal yang paling terasa sejak bergabung  dengan BWM. 

BSI Maslahat

Harapan Sederhana yang Terus Dijaga 

Hingga hari ini, Listiyani masih menjalankan usahanya dengan segala keterbatasan  yang ada. Namun harapannya tetap sederhana dan kuat.

“Semoga usaha semakin  maju, lancar, dan bisa produksi setiap hari” harapnya. 

Di dapur kecilnya, setiap adonan yang dibuat bukan hanya tentang kue yang akan  dijual. Lebih dari itu, ada doa, ketekunan, dan harapan yang terus ia jaga. Perjalanan  Listiyani mungkin masih panjang. Namun satu hal yang pasti, kini ia tidak lagi berjalan  sendiri.

Related posts

Leave a Reply