Siap Menyongsong Masa Tua dengan Percaya Diri, Simak Kiat Pensiun dari Bank DBS Indonesia

Bank DBS Indonesia Hadirkan Retirement Goal Calculator untuk Merencanakan Masa Tua Sesuai Gaya Hidup Impian

(Ki-ka) Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo, Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto, dan Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika dalam acara peluncuran kampanye “Pensiun Gak Susah” di Jakarta, (19/1/2026). Kampanye ini merupakan bagian dari inisiatif Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation dalam mendorong masyarakat merencanakan masa pensiun secara menyeluruh agar dapat menikmati kehidupan yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna di setiap fase usia. /doc. Bank DBS Indonesia

Jakarta, 19 Januari 2026 – Fenomena masyarakat menua kini menjadi tantangan nyata di Asia, terutama Indonesia yang masih berada pada tahap awal dalam kesiapan pensiun, sementara perubahan demografi berlangsung semakin cepat. Menyikapi kondisi tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah inisiatif yang bertujuan mendorong masyarakat merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna di usia pensiun.

Read More

Persiapan ini semakin mendesak ketika melihat arah perubahan struktur demografis Indonesia dalam dua dekade ke depan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2035 lebih dari 14 persen penduduk diperkirakan berusia di atas 60 tahun, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 20 persen atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045. Perubahan ini menunjukkan pergeseran struktur penduduk yang signifikan seiring dengan menyusutnya bonus demografi. Dalam konteks tersebut, kebutuhan akan ekosistem, kebijakan, dan infrastruktur yang memadai menjadi semakin penting untuk memastikan proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif. Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia dapat terus berkontribusi secara optimal dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Sejalan dengan aspirasi ‘Best Bank for a Better World’, DBS Foundation secara konsisten menempatkan ageing society sebagai salah satu fokus utamanya. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa peningkatan usia harapan hidup perlu diiringi dengan kualitas hidup yang baik, sehingga setiap individu dapat menjalani proses menua secara bermartabat, bermakna, dan berdaya

“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan. Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.

Sebagai bagian dari kampanye ini, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal bagi masyarakat untuk merencanakan kebutuhan pensiun secara lebih menyeluruh dan terarah. Kalkulator ini dirancang untuk membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun. Sejalan dengan misi ‘Live more, Bank less’, alat ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia dalam menyederhanakan berbagai aspek perbankan dan perencanaan keuangan yang kerap terasa kompleks, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup serta mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang dan percaya diri.

Sebagai ilustrasi, Reza saat ini berusia 30 tahun, berencana pensiun pada usia 55 tahun, dan memiliki harapan hidup hingga usia 71 tahun. Berikut rincian pemasukan dan pengeluarannya:

Dana tabunganPengeluaran
Total deposito: Rp10.000.000Total investasi: Rp15.000.000Rata-rata return per tahun: 5,57%Dana yang ditabung tiap bulan: Rp3.000.000Kebutuhan dasar: Rp13.000.000Kebutuhan lain: Rp7.500.000

Dengan estimasi kebutuhan pensiun sekitar Rp 19.500.000 juta per bulan (dalam nilai hari ini) dan masa pensiun 16 tahun, maka Reza memerlukan dana sekitar Rp2.521.591.343 atau Rp19.666.667 per bulan. Estimasi ini memperhitungkan asumsi inflasi sebesar 3,1% serta imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57%. Perhitungan ini sudah mencakup kebutuhan dasar (termasuk makanan, utilitas, dan belanja bulanan) serta kebutuhan lainnya (seperti belanja pakaian, olahraga, serta liburan).

Meski begitu, kesiapan pensiun tidak hanya ditentukan oleh dana. Bagi banyak orang, masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran, dan rasa tujuan hidup. Tanpa perencanaan yang matang, transisi ini kerap terasa mengejutkan dan menantang. Karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun dapat dijalani sebagai fase kehidupan yang tetap aktif, bermakna, dan produktif.

“Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal: penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup. Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari,” ucap Founder & CEO, Lead Financial Trainer at QM Financial Ligwina Hananto.

Untuk membantu masyarakat merencanakan masa pensiun secara lebih matang, Bank DBS Indonesia menghadirkan DBS Retirement Goal Calculator sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”. Alat ini dirancang untuk memahami kebutuhan finansial di masa depan secara komprehensif, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun, sehingga masyarakat bisa fokus ‘Live more, Bank less’. /doc. Bank DBS Indonesia

Silver Economy di Titik Emas, Potensi Pasar Lansia Tembus Triliunan Dolar

Masa pensiun adalah fase hidup di mana ketenangan, keamanan, dan kualitas hidup menjadi prioritas. Perencanaan yang matang mengajarkan bahwa menumbuhkan dana saja tidak cukup, tetapi juga harus memerhatikan perlindungan yang memadai, seiring meningkatnya ketidakpastian dan tantangan kehidupan.

“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri. Sebagai mitra tepercaya dalam manajemen kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun,” ujar Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo.

Urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh ini juga tercermin dalam perubahan demografi global. Penemuan pada CIO Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang” mengungkapkan bahwa harapan hidup manusia meningkat secara tajam dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini. Lonjakan ini tidak hanya akan mendorong peningkatan pengeluaran untuk pengobatan penyakit terkait usia, tetapi juga memperkuat permintaan akan layanan kesehatan dan sistem pensiun yang lebih matang. Perubahan tren ini membuka peluang strategis untuk mengembangkan silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang fokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia.

Ekosistem ini mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, dan transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup, semuanya dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Kondisi ini menempatkan ekonomi lansia pada titik infleksi, didorong oleh kemajuan teknologi medis, aliran modal yang meningkat, serta tren penuaan populasi yang semakin nyata. Dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar, ekonomi lansia ke depan menawarkan peluang investasi yang semakin relevan, strategis, dan menarik.

Lebih lanjut, Anda juga dapat menghitung persiapan masa pensiun menggunakan Retirement Goal Calculator yang tersedia di sini

Untuk informasi lebih lanjut mengenai DBS Foundation, kunjungi laman ini dan Instagram @dbsfoundationid

Related posts

Leave a Reply