
22 Januari 2026 – Kota Malang tidak kekurangan ruang pamer. Namun, ruang saja tidak pernah cukup. Di titik inilah INTERSECTION menemukan maknanya, sebagai pertemuan dua peran penting. Yakni, kurator yang menjaga kedalaman gagasan, dan akademisi yang menjembatani kampus dengan praktik publik.
Didit Prasetyo dan Adita Ayu Kusumasari datang dari jalur berbeda, tetapi bertemu di titik yang sama. Gagasan bahwa seni sebaiknya tetap berpikir, sekaligus tetap berhubungan dengan publiknya.
Bagi Didit Prasetyo, dosen dan kurator yang lama berkutat di praktik lintas disiplin, pameran bukan urusan estetika ruang semata. Ia menegaskan bahwa gagasan harus menjadi fondasi awal sebelum bicara lokasi, visual, atau audiens.
“Harus ada gagasan dulu. Ruang itu nanti mengikuti. Kalau karya sudah matang, baru lokasi ditentukan. Visual bisa disesuaikan dengan ruang tanpa mengubah konsep dasar,” ujar Didit saat diwawancara, Selasa (13/1/2026).
Pengalaman Didit sebagai pengajar membentuk cara pandangnya dalam membaca karya. Berhadapan dengan mahasiswa dari latar dan kecenderungan yang beragam membuatnya terbiasa melihat karya tidak hanya dari hasil akhir, tetapi dari proses berpikir di baliknya.
“Setiap mahasiswa punya karakter dan karya yang berbeda. Dari situ saya belajar memahami bagaimana mereka membentuk karya, dan itu menjadi pelajaran baru bagi saya,” katanya.
Namun, Didit juga mencatat persoalan klasik di pendidikan seni, yakni kecenderungan mahasiswa yang lebih fokus pada hasil ketimbang proses konseptual. Baginya, hal tersebut berkaitan dengan kedewasaan berpikir, bukan perkara teknis.
“Biasanya mereka lebih memikirkan hasil. Proses dan konsep kadang dipikirkan belakangan. Padahal kami melatih agar semuanya dikonsep sejak awal, supaya ketika karya jadi, itu sudah matang,” ujarnya.

Dalam konteks seni media baru, tantangan itu kerap muncul ketika mahasiswa mengangkat tema tradisi, seperti yang ditampilkan dalam INTERSECTION. Didit melihat pengambilan tema sering kali masih berada di permukaan, karena perhatian tersedot pada eksplorasi medium dan visual.
“Sering kali konsep tradisional hanya diambil di permukaan karena mereka fokus ke medium visual. Di situ peran saya membantu agar pemaknaannya lebih dalam. Untuk visual dan teknis, saya serahkan ke mereka,” jelasnya.
Sementara itu, dari sudut akademik, Adita Ayu Kusumasari mencoba memastikan keberlanjutan riset dan regenerasi praktik. Sebagai dosen sekaligus Ketua Program Studi DKV Universitas Bhinneka Nusantara (UBHINUS), keterlibatannya dalam INTERSECTION berangkat dari pembimbingan tugas akhir mahasiswa.
“Kalau saya di kampus memang membimbing anak-anak yang sedang TA. Kebetulan saya juga sedang studi S3 di ISI Bali, dan rencana disertasi saya juga tentang media art dan seni tradisi,” ujar Adita.
Di UBHINUS, mahasiswa DKV memiliki kebebasan memilih topik tugas akhir. Adita menawarkan tema yang sejalan dengan risetnya, yaitu pertemuan seni tradisi dan media art. Riset ini disepakati oleh para mahasiswanya, kelompok yang menamakan diri mereka Gangcallslow, menjadi proyek karya.
“Ini sebenarnya bagian dari riset saya juga. Anak-anak ambil judul, bikin proyek, lalu di tengah jalan ada kedekatan juga dengan teman-teman Story of Karana. Dari situ muncul ide untuk bikin pameran, akhirnya lahirlah INTERSECTION,” katanya.
Bagi Adita, pameran bukan hanya etalase karya, tetapi ruang belajar yang nyata. Mahasiswa tidak hanya diuji secara akademik, tetapi juga berhadapan langsung dengan audiens publik.

“Ini jembatan dari dunia akademik ke publik. Anak-anak dapat pengalaman pameran, ketemu audiens, dan melihat langsung respon orang,” ujarnya.
Adita juga menolak dikotomi kaku antara galeri dan ruang alternatif. Menurutnya, ruang seperti kafe justru relevan untuk mendekatkan seni media baru dengan keseharian anak muda.
“Kalau di galeri eksklusif bisa saja. Tapi untuk sekarang, justru tempat seperti ini lebih kena ke anak muda yang nongkrong,” katanya.
Pada akhirnya, peran Didit dan Adita saling melengkapi di titik ini. Didit Prasetyo hadir memastikan kedalaman gagasan dan menjaga disiplin konseptual agar tetap diutamakan di tengah euforia medium dan teknologi. Sementara Adita membuka jalur agar praktik itu tidak berhenti di ruang kelas, melainkan diuji, dibaca, dan dialami langsung oleh masyarakat.
Keduanya sama-sama menyadari bahwa seni media baru menuntut sikap terbuka terhadap perubahan. Didit memilih membaur agar tidak tertinggal dari dinamika generasi mahasiswa, sementara Adita mengakui proses belajarnya justru banyak datang dari interaksi dengan mereka.
INTERSECTION sendiri merupakan pameran lintas disiplin yang mempertemukan seni media baru, musik, dan ruang sosial. Diselenggarakan pada 16–18 Januari 2026 lalu di Astaloka Coffee, Malang, pameran ini menghadirkan karya interaktif yang selain dipajang juga bisa dimainkan.
Rangkaian program INTERSECTION mencakup New Media Art Exhibition oleh Gangcallslow yang dikurasi Didit Prast, live audio-visual performance oleh Matches, DJ set oleh Minister Dancing Club dan Fadly, peluncuran photobox First Meet “Piano Girl” hasil kolaborasi Pixelab × Amelia Tri, serta pop-up art merchandise dari Yarn Lunchbox, Divisi Serangga, Pawfecth, Kumaw, dan Trolley Witch.
Selain menjembatani seniman, akademisi, dan publik, pameran ini juga menjadi roadshow pembuka menuju Swarnaloka 2026 yang rencananya akan segera bergulir tak lama lagi. -OVAN ZAINUDDIN-





