Digital Psychology Forum 2026: BINUS Bahas Dampak AI ke Manusia

Digital Psychology Forum 2026: BINUS Bahas Dampak AI ke Manusia

Curhat kepada AI, meminta saran saat menghadapi masalah pribadi, hingga menggunakan chatbot sebagai bentuk dukungan emosional kini menjadi bagian dari interaksi manusia dengan teknologi. Fenomena ini mendorong BINUS University, Asia Pacific University of Technology & Innovation (APU) Malaysia, dan RMIT Vietnam menggelar Digital Psychology Forum 2026: International Joint Research Symposium pada 7 Oktober 2026 secara daring, mengangkat tema “Risks and Opportunities of Digital Interactions for People’s Wellbeing”.

Dekan Fakultas Humaniora BINUS University, Dr. Elisa Carolina Marion, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan institusi untuk memahami dampak teknologi terhadap kesejahteraan manusia. Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas perkembangan cyberpsychology dari berbagai sudut pandang.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

AI dan Kemampuan Berpikir Kritis

Profesor Andrew J. Campbell dari The University of Sydney, yang hadir sebagai keynote speaker, menyoroti bahwa semakin besarnya peran AI dalam pengambilan keputusan justru membuat kemampuan berpikir kritis manusia semakin penting. Menurutnya, keamanan di era AI tidak hanya soal sistem teknis, melainkan juga kemampuan manusia menilai kapan teknologi bisa dipercaya serta menjaga kemandirian berpikir.

Sesi panel bertema “AI for Emotional and Psychological Support: Risks and Opportunities” menghadirkan sejumlah akademisi dari ketiga institusi. Dhevaania C. Gendsen dari APU menekankan pentingnya membedakan antara AI yang membantu refleksi emosi dan AI yang sekadar membenarkan interpretasi yang belum tepat. Sementara itu, Duy Tran Hoang Le dari RMIT Vietnam mengingatkan bahwa sikap positif terhadap AI tidak berarti masyarakat siap bergantung penuh padanya.

Head of Psychology Department BINUS University, Dr. Esther Widhi Andangsari, mengingatkan risiko “pseudo-intimacy” atau kedekatan semu ketika seseorang terlalu bergantung pada AI untuk dukungan emosional, alih-alih mencari bantuan bermakna dari sesama manusia atau tenaga profesional. Selain sesi utama, forum ini juga menampilkan presentasi penelitian mahasiswa, termasuk aplikasi mindfulness digital DINAMIS dan intervensi anti-doomscrolling bernama M.I.N.D.

Rangkaian forum akan berlanjut secara tatap muka di BINUS @Malang pada 29 Oktober 2026 dengan menghadirkan pembicara dari Monash University untuk membahas lebih jauh perkembangan digital psychology di era AI.

Catatan Redaksi. Cyberpsychology adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari bagaimana perilaku, emosi, dan kognisi manusia berubah ketika berinteraksi dengan teknologi digital, termasuk AI. Istilah pseudo-intimacy merujuk pada rasa kedekatan yang terasa nyata saat mengobrol dengan chatbot, padahal sifatnya satu arah dan tidak menggantikan hubungan manusia yang sesungguhnya. Sementara doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau berita negatif tanpa henti, yang berkaitan dengan kesehatan mental sehingga banyak dikembangkan aplikasi atau intervensi digital untuk menguranginya.

Sumber: BINUS University.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan