Kesadaran Geopolitik: Pesan Gubernur Lemhannas untuk Mahasiswa ITB

Kesadaran Geopolitik: Pesan Gubernur Lemhannas untuk Mahasiswa ITB
Ilustrasi (AI)

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., menegaskan bahwa kesadaran geopolitik bukan hanya urusan diplomat atau pemimpin negara, tetapi kompetensi yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara, terutama generasi muda. Pesan itu disampaikan dalam Kuliah Umum bertema “Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami Dunia, Menentukan Posisi, Memberi Kontribusi” di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Dampak Global yang Terasa di Indonesia

Ace mencontohkan gangguan di Selat Hormuz akibat konflik Iran-Israel yang membuat biaya logistik melonjak hingga 150-200 persen, serta longsor di tambang Grasberg, Papua, pada 2025 yang mengurangi pasokan tembaga dunia. Menurutnya, dua peristiwa itu membuktikan bahwa dinamika global berdampak langsung pada Indonesia, sehingga kesadaran geopolitik menjadi hal yang mendesak untuk dipahami oleh generasi muda.

Bacaan Lainnya

Ia mendorong mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap informasi dengan menelusuri lima pertanyaan dasar: apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang berkepentingan, apa dampaknya bagi bangsa, dan apa yang bisa dilakukan. Dengan cara berpikir tersebut, generasi muda diharapkan menjadi aktor, bukan sekadar sasaran informasi dan propaganda.

Lima Kompetensi Menuju 2045

Menuju Indonesia Emas 2045, Ace menyebut lima kemampuan yang perlu dimiliki generasi muda: kesadaran strategis, berpikir kritis, kesadaran akan kepentingan nasional, kompetensi global, dan literasi digital. Ia juga menyoroti jumlah generasi muda usia 15-29 tahun yang mencapai 66 juta jiwa berdasarkan data BPS 2025, yang berisiko menghadapi kesenjangan keterampilan dan ketergantungan teknologi apabila tidak dipersiapkan dengan baik.

“Teknologi adalah kekuatan. Indonesia perlu mencipta, mengembangkan, menguasai, dan mengamankan teknologi,” ujar Ace. Ia menutup paparannya dengan menekankan bahwa upaya membangun kesadaran geopolitik adalah agenda bersama pemerintah, perguruan tinggi, generasi muda, ekosistem teknologi, masyarakat, dan organisasi kepemudaan.

Catatan Redaksi. Selat Hormuz adalah jalur laut sempit antara Iran dan Jenazirah Arab yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di sana langsung mendongkrak biaya pelayaran dan premi asuransi kapal secara global. Sementara itu, tambang Grasberg di Papua merupakan salah satu penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia, sehingga gangguan produksinya ikut memengaruhi harga tembaga dunia, logam yang banyak dipakai dalam kabel listrik dan kendaraan listrik.

Sumber: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan