
Pendiri aplikasi sosial media Sanct Social, Sion Abednego, membagikan tiga catatan setelah mengikuti delegasi bisnis Indonesia dalam Global Digital Trade Expo (GDTE) ke-5 di Hangzhou, Tiongkok, pada 23-26 September 2026. Catatan tersebut ia himpun dari dua hari sesi temu bisnis dengan perusahaan teknologi Tiongkok serta kunjungan ke area pameran.
Dukungan Pemerintah dari Riset hingga Pasar
Menurut Sion, pemerintah Tiongkok menopang perusahaan rintisan sejak tahap riset dan pengembangan hingga produk siap dipasarkan. Ia menilai dukungan jangka panjang inilah yang membuat produk-produk seperti kartu pemroses AI, asisten suara, model AI industri, hingga kacamata pintar sudah diproduksi massal dan punya harga kompetitif saat dipamerkan.
Baca juga:
- Global Digital Trade Expo 2026 Hangzhou: 31 Delegasi RI Hadir
- Sanct Luncurkan Episode 5, Kisah Anak Rantau Pulang Diam-diam
Setiap Kota Punya Fokus Inovasi Sendiri
Dari perbincangan selama sesi temu bisnis, Sion mencatat bahwa tiap kota di Tiongkok memiliki bidang inovasi yang ditugaskan untuk dikembangkan secara spesifik. Hangzhou, misalnya, tidak dirancang untuk menyaingi Shenzhen atau Shanghai, melainkan memiliki perannya sendiri yang dirangkum dalam akronim WEALTH: wellness, education, art, life, transport, dan health.
Teknologi Berdampingan dengan Budaya
Kunjungan delegasi bertepatan dengan Festival Pertengahan Musim Gugur pada 25 September 2026. Sion menuturkan, hingga pukul 02.00 dini hari warga Hangzhou masih memadati jalan untuk menikmati bulan purnama bersama, sebuah momen yang menurutnya lebih membekas ketimbang kecanggihan teknologi yang ia saksikan di area pameran. Ia mengaitkan pengalaman itu dengan misi Sanct Social: menghadirkan kedekatan bagi orang-orang yang terpisah jarak.
Dari rangkaian sesi temu bisnis di Hangzhou, satu peluang kemitraan kini dalam tahap tindak lanjut. Sanct Social juga berencana kembali ke Tiongkok pada 2027 untuk melihat perkembangan prototipe terkait.
Sumber: Sanct Social.





