
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) versi Bank Indonesia untuk Agustus 2026 tercatat di level 118,5, naik dari 116,8 pada bulan sebelumnya. Angka di atas 100 itu menandakan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih terjaga. Namun di balik tren positif tersebut, ada pergeseran yang patut dicermati: porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan justru menurun.
Berdasarkan hasil survei yang sama, rata-rata porsi pendapatan rumah tangga untuk konsumsi naik dari 72,7 persen menjadi 74,2 persen. Sebaliknya, porsi yang disimpan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen, sementara porsi untuk cicilan atau pembayaran utang juga turun tipis dari 10,5 persen menjadi 10 persen.
Bukan Berarti Tabungan Menyusut Nominal
Financial consultant Dhiraj Kelly mengingatkan bahwa penurunan porsi tabungan secara persentase tidak otomatis berarti nilai saldo tabungan masyarakat berkurang, dan data agregat ini juga tidak membuktikan seluruh rumah tangga sedang kesulitan keuangan. Meski begitu, pergeseran alokasi ini tetap jadi pengingat soal pentingnya ruang untuk membangun cadangan keuangan keluarga.
Sebagai ilustrasi, Dhiraj Kelly mencontohkan simulasi sederhana: seseorang berpenghasilan bersih Rp10 juta dengan biaya hidup Rp6 juta dan cicilan Rp2 juta punya sisa dana Rp2 juta per bulan. Jika penghasilannya naik menjadi Rp12 juta tetapi biaya hidup naik ke Rp7 juta dan muncul cicilan baru Rp1,5 juta, sisa bulanannya justru menyusut jadi Rp1,5 juta — karena kenaikan pengeluaran dan kewajiban melampaui kenaikan pendapatan.
Langkah Evaluasi Mandiri
Dhiraj Kelly menyarankan setiap rumah tangga rutin mencatat penghasilan bersih, kebutuhan pokok bulanan, cicilan aktif, hingga pengeluaran berkala seperti biaya pendidikan tahunan, perawatan kendaraan, atau pajak. Catatan yang rapi membantu membedakan pendapatan rutin dari bonus atau pemasukan tak pasti, yang penting sebelum mengambil komitmen cicilan baru jangka menengah-panjang. Pada akhirnya, ketahanan keuangan keluarga lebih ditentukan oleh pemeriksaan mandiri atas stabilitas penghasilan, jumlah tanggungan, dan kesiapan dana darurat ketimbang data makro semata.
Catatan Redaksi. Artikel ini bersumber dari Dhiraj Kelly Academy, lembaga konsultasi keuangan yang pendirinya dikutip sebagai sumber saran di dalamnya. IKK yang dirilis Bank Indonesia dihitung dari survei bulanan ke ribuan rumah tangga di berbagai kota, mengukur persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi enam bulan mendatang, dengan ambang netral di angka 100.
Sumber: Dhiraj Kelly Academy.





