
Desa Sidorejo bertransformasi menjadi destinasi wellness tourism yang memadukan warisan budaya leluhur dengan teknologi digital. Pengembangan ini berangkat dari kekayaan naskah Jawa kuno yang tersimpan di Museum Pawukon, dan kini dikelola lebih profesional lewat sistem manajemen bisnis terdigitalisasi.
UGM Jadi Inisiator, Sanggabiz Garap Teknologi
Universitas Gadjah Mada (UGM) berperan sebagai inisiator program pemberdayaan masyarakat di desa tersebut. Pihak kampus menilai kearifan lokal yang tersimpan di Museum Pawukon punya potensi besar, namun selama ini sulit bersaing di industri pariwisata modern karena tata kelolanya masih konvensional dan manual.
Untuk mengatasi hal itu, UGM menggandeng Sanggabiz, startup penyedia teknologi dan konsultan bisnis yang juga merupakan binaan ekosistem UGM, sebagai mitra implementasi. Sanggabiz membawa solusi berbasis kecerdasan buatan yang disebut Department as a Service, mencakup sistem pemesanan digital untuk reservasi real-time serta Smart POS yang mempercepat transaksi dan mengotomatisasi rekap keuangan.
Wisata Kesehatan Berbasis Filosofi Pawukon
Daya tarik utama Desa Sidorejo bersumber dari filosofi keseimbangan hidup dalam sistem penanggalan tradisional Jawa, Pawukon, yang memuat makna tentang siklus waktu, karakter manusia atau weton, dan hubungannya dengan alam. Berbekal filosofi itu, wisatawan ditawarkan pengalaman holistik berupa terapi kebugaran, meditasi relaksasi, hingga racikan jamu tradisional yang diadaptasi dari manuskrip kuno.
Dengan dukungan infrastruktur operasional yang lebih tangkas dan terukur, kolaborasi UGM dan Sanggabiz ini diharapkan membuat layanan wellness tourism di Desa Sidorejo lebih siap menyasar wisatawan global sekaligus menjaga keaslian tradisi lokal.
Sumber: Sanggabiz.





