
Pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diingatkan bahwa produk berkualitas tinggi saja tidak cukup untuk menembus pasar ekspor. Tanpa pemahaman mendalam terhadap regulasi dan kebutuhan pasar negara tujuan, produk UMKM berisiko ditolak oleh pembeli internasional.
Fasilitator Ekspor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), Dede Saputra, menyampaikan hal itu dalam sesi Export Bootcamp yang menjadi bagian dari rangkaian Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026 bertema “Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas Membuka Pasar Global”. Acara yang digagas Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) di bawah program “Sampoerna untuk Indonesia” ini diikuti lebih dari 180 pelaku UMKM dari berbagai daerah.
Tiga Pilar Penilaian Buyer
Menurut Dede, yang juga menjadi Tenaga Ahli Kementerian Perdagangan, pelaku UMKM perlu bergeser dari pola pikir berorientasi produk menjadi berorientasi kebutuhan pembeli. Setidaknya ada tiga pilar yang biasa dipertimbangkan buyer dalam skema business-to-business: kepatuhan regulasi dan sertifikasi, keandalan pasokan, serta kesiapan skema perdagangan seperti harga per kontainer, kapasitas produksi, dan biaya pengiriman.
Sebagai contoh, ekspor produk pangan ke China mensyaratkan sertifikat GACC, sementara pasar Amerika Serikat mewajibkan standar FDA. Dede menegaskan lebih dari 78 persen buyer langsung mengeliminasi calon pemasok yang tidak mencantumkan spesifikasi teknis, sertifikasi keamanan pangan, dan kapasitas produksi secara transparan sejak awal.
Empat Kesalahan yang Harus Dihindari
Dede juga mengingatkan empat kebiasaan yang kerap membuat produk UMKM gagal diterima pasar global, yakni materi promosi yang tidak disesuaikan dengan bahasa dan kebutuhan negara tujuan, klaim kapasitas produksi yang berlebihan, minimum order quantity yang tidak realistis, serta kurang responsif terhadap perbedaan zona waktu saat berkomunikasi dengan buyer. Ia menambahkan, kopi, cokelat, dan sepatu olahraga saat ini menjadi tiga produk UMKM Indonesia yang paling diminati di pasar global.
Sumber: PT HM Sampoerna Tbk.





