
Laporan kemajuan proyek konstruksi selama ini kerap hanya berupa foto dan tabel persentase, sehingga pemilik proyek sulit memastikan apakah bangunan benar-benar terbangun sesuai gambar kerja. Selisih kecil antara rencana dan realisasi di lapangan sering baru ketahuan setelah biaya perbaikannya membengkak. Teknologi digital twin konstruksi berbasis data drone diklaim dapat menutup celah tersebut dengan menghadirkan model tiga dimensi yang mengikuti kondisi nyata proyek secara berkala.
Beda Digital Twin dan BIM
Building Information Modeling (BIM) adalah model rencana yang menggambarkan bagaimana seharusnya sebuah bangunan dikerjakan. Digital twin, sebaliknya, adalah salinan digital yang merekam kenyataan di lapangan, yakni bagaimana bangunan itu benar-benar terbangun. Ketika keduanya ditampilkan dalam satu tampilan yang sama, selisih antara desain dan hasil konstruksi bisa terlihat jelas dan terukur, bukan sekadar perkiraan visual.
Tiga Tahap Pembuatannya
Prosesnya dimulai dari perekaman udara menggunakan drone, baik dengan sensor kamera untuk teknik photogrammetry (pemetaan dari ribuan foto) maupun sensor LiDAR yang mampu merekam hingga dua juta titik data per detik untuk hasil yang lebih presisi. Data mentah tersebut kemudian diolah menjadi point cloud dan model tiga dimensi, lalu dianalisis lebih lanjut untuk keperluan klasifikasi objek. Tahap terakhir adalah pengulangan pindaian secara berkala, yang kini bisa dilakukan otomatis dari docking station tanpa kehadiran pilot di lokasi proyek.
Model akhir dapat dibuka langsung melalui browser tanpa memerlukan perangkat lunak atau perangkat keras khusus, sehingga tim kontraktor, konsultan, dan pemilik proyek bisa memakai model yang sama untuk memantau kemajuan, membandingkan hasil bangun dengan desain, hingga menghitung volume galian dan timbunan secara kolaboratif.
Catatan Redaksi. Point cloud adalah kumpulan jutaan titik koordinat hasil pindaian yang bila digabungkan membentuk model tiga dimensi permukaan objek nyata, mirip prinsip kerja pemindai 3D pada umumnya. LiDAR mengukur jarak dengan memantulkan laser ke permukaan benda, sehingga lebih presisi dibanding photogrammetry yang menyusun bentuk dari sekumpulan foto, terutama untuk menangkap detail struktur yang rumit atau tertutup bayangan.
Sumber: Halo Robotics.





