
Kecerdasan buatan (AI) disebut tengah memasuki fase baru yang melampaui peran sebagai alat produktivitas digital. Menurut AMD, gelombang pertama AI—yang diwakili oleh large language model (LLM), asisten AI, dan copilot—selama ini lebih banyak berperan membantu manusia mencari informasi, merangkum data, membuat konten, hingga mempercepat pengambilan keputusan berbasis pengetahuan.
Dari Memahami ke Berinteraksi dengan Dunia Fisik
AMD memproyeksikan babak berikutnya akan sangat berbeda. AI tidak lagi cukup hanya memahami dan mengolah informasi, tetapi mulai dituntut untuk berinteraksi dengan lingkungan fisik secara langsung—sebuah lompatan dari ranah digital murni menuju penerapan yang lebih nyata dalam kehidupan dan operasional industri.
Pandangan ini disampaikan oleh Steven Fong, Corporate Vice President APJ Embedded Business AMD, yang menjadi narasumber utama dalam pembahasan tren tersebut. Pergeseran ini mengindikasikan bahwa kebutuhan akan sistem komputasi tertanam (embedded) dan pemrosesan di sisi edge akan semakin penting seiring AI dituntut merespons kondisi dunia nyata secara langsung, bukan sekadar mengolah data di ruang digital.
Tren ini sejalan dengan arah pengembangan teknologi di berbagai sektor industri, di mana kebutuhan terhadap sistem yang mampu mengambil tindakan otomatis—bukan hanya memberi rekomendasi—diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Catatan Redaksi. Komputasi edge berarti pemrosesan data dilakukan di perangkat itu sendiri, seperti kamera pabrik atau sensor kendaraan, bukan dikirim dulu ke server jarak jauh. Pendekatan ini penting ketika AI harus mengambil tindakan cepat di dunia fisik, misalnya menghentikan mesin atau mengerem otomatis, karena menunggu respons dari komputasi awan bisa terlalu lambat untuk situasi yang butuh reaksi seketika.
Sumber: AMD.





