Defia, Peraih Emas Pertama Indonesia di Asian Games 2018 Bertekad Jadi Pelatih

Jakarta: Masih ingat siapa penyumbang medali emas pertama Indonesia di Asian Games 2018? Ya, dia adalah Defia Rosmaniar, atlet taekwondo yang turun di nomor poomsae tunggal putri. Perempuan kelahiran Bogor, 25 Mei 1995 itu mengaku akan terus mengenang momen bersejarah itu sepanjang hidupnya. Pasca kesuksesan di Asian Games, Defia langsung berlatih lagi untuk ajang berikutnya dan memiliki tekad menjadi pelatih.

Pada 13 November nanti, Defia bakal tampil di matras sekali lagi dalam kejuaraan dunia Poomsae di Taiwan. Dia mengaku sudah latihan keras dan akan tampil sebaik-baiknya demi merah-putih.
Sebagai atlet taekwondo yang turun di nomor poomsae, Defia punya harapan agar suatu saat nanti poomsae dapat dipertandingkan di ajang olimpiade. Saat ini taekwondo baru sempat memasukkan nomor kyorugi saja, sementara nomor poomsae masih belum bisa.

Defia mengaku bakal terus menunggu sampai hari itu tiba meski dirinya sudah tidak lagi menjadi atlet taekwondo. “Aku berharap setelah Asian Games ini ada kelanjutan untuk olimpiade. Walaupun aku nanti tidak ikut karena batasan umur, tapi setidaknya junior-junior aku nanti banyak yang tampil di olimpiade untuk membela Indonesia,” kata Defia.

Setelah tak lagi menjadi atlet taekwondo, Defia mengaku siap menjadi pelatih. Apalagi saat ini dia tengah mengikuti pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi atlet berprestasi. Dia akan mengabdi dengan menjadi pelatih taekwondo dan mencari bakat-bakat dari seluruh penjuru Indonesia ketika pensiun kelak.

Hal itu semata-mata dilakukan karena ia mencintai olahraga taekwondo, khususnya pada nomor poomsae. Tidak bisa dipungkiri bahwa semua kesuksesan Defia saat ini adalah hasil kerja kerasnya di bidang olahraga taekwondo. Untuk itu ia merasa perlu berbakti dan memberikan sesuatu untuk cabang olahraga yang sudah ia tekuni sejak SMP.

Pernah suatu ketika Defia menderita penyakit hepatitis. Padahal saat itu dia adalah atlet taekwondo yang turun di nomor kyorugi. Lantas impiannya untuk jadi atlet mulai goyah sejak peristiwa itu. Namun sang pelatih mengajaknya berdiskusi.

“Pelatih sempat bertanya: ‘kamu masih mau lanjut di taekwondo?’. Tentu saja aku jawab masih karena memang jiwaku masih di sana. Kemudian pelatih menyarankan aku beralih ke nomor poomsae. Sejak saat itulah aku menekuni poomsae,” kenang Defia ketika ditanya apa alasannya beralih dari kyorugi ke poomsae.

Defia juga sempat mengaku bosan dengan gerakan-gerakan poomsae. Namun perlahan-lahan rasa bosan itu hapus ketika ia menjalani kejuaraan demi kejuaraan. Kini, Defia sudah seratus persen selesai dengan pergolakan batinnya. Bahkan pada usianya yang masih menginjak 23 tahun, Defia sudah memiliki visi akan seperti apa dirinya nanti. Ya, dia akan mengabdi lagi ke olahraga taekwondo sebagai pelatih.

Related posts

Leave a Reply