Kemendag Gelar Seminar Nasional : Bahas Daya Saing Produk Pertanian di Pasar Global

Bogor, 12 April 2018 – Produk hasil pertanian Indonesia memiliki peluang ekspor yang besar
sekaligus tantangan yang besar. Kondisi ini menjadi gagasan utama dalam Seminar Nasional yang
diadakan Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan
hari ini, Kamis (12/4) di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Seminar
mengusung tema ‘Perdagangan Internasional Produk Pertanian: Peluang dan Tantangan’.
“Melihat situasi perdagangan global saat ini, Kemendag menyadari bahwa peluang ekspor
produk-produk pertanian Indonesia masih terbuka lebar dengan permintaan yang terus
meningkat. Namun, tantangan perdagangan juga semakin kompleks, apalagi di era ekonomi
digital ini,” kata Kepala BPPP Kasan dalam sambutannya.
Sebagai contoh, kata Kasan, minyak kelapa sawit dan produk turunannya adalah komoditas
pertanian unggulan yang memiliki peluang ekspor. Namun pada saat yang sama, minyak kelapa
sawit dan produk turunannya mendapat diskriminasi dari negara-negara tujuan ekspor Indonesia
seperti Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), dan India.
“Permasalahan ini menuntut strategi perdagangan yang komprehensif, baik dari sisi diplomasi,
hukum, maupun keilmuan, serta membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan
terkait,” kata Kasan.
Selain itu, lanjut Kasan, hubungan dagang yang memanas antara AS dan China ke arah perang
dagang turut mewarnai situasi perdagangan global yang berisiko memperlambat pertumbuhan
ekonomi global dan mempengaruhi harga komoditas produk pertanian dunia. Namun, Indonesia
tetap dapat mencari peluang yang menguntungkan sebagai mitra dagang utama dari kedua negara
yang berseteru itu.
Sementara itu dari sisi perkembangan teknologi, kehadiran revolusi industri 4.0 telah mengubah
peta konektivitas antara manusia, mesin, dan data. Komoditas pertanian adalah salah satu bagian
penting dalam perdagangan di era digital karena berkaitan erat dengan pangan yang dapat
memberikan efek multipel bagi pertumbuhan ekonomi.

“Hal ini mengingat lebih dari 50% penduduk Indonesia adalah pengguna internet aktif dan
Indonesia juga ditargetkan menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada
tahun 2020. Perdagangan dituntut menjadi semakin efisien dan konsumen diuntungkan dengan
berbagai kemudahan,” ungkap Kasan.

Dalam seminar kali ini, ada lima isu yang menjadi fokus pembahasan yaitu promosi ekspor dan
peningkatan daya saing ekspor produk pertanian; perdagangan produk pertanian menghadapi
kebijakan proteksionis negara tujuan ekspor; perdagangan internasional produk pertanian di era
ekonomi digital; perdagangan internasional produk pertanian sebagai bagian strategi stabilisasi
pasar domestik; serta perdagangan produk pertanian dan pemenuhan bahan baku industri dalam
negeri. Isu-isu tersebut dibahas para narasumber yang merupakan pakar ekonomi IPB, pengamat
ekonomi, dan pemerintah.
“Semua isu ini diharapkan dapat menjadi representasi dari berbagai permasalahan perdagangan
internasional produk pertanian Indonesia. Seluruh pemikiran yang akan disampaikan akan menjadi
catatan penting sebagai rekomendasi kebijakan perdagangan produk pertanian kepada Menteri
Perdagangan,” kata Kasan

Turut hadir dalam seminar ini Wakil Menteri Perdagangan periode 2011-2014 Bayu Krisnamurthi,
Rektor IPB sekaligus Ketua University Network for Indonesia Export Development (UNIED) Arif
Satria, serta sejumlah ekonom dan akademisi. Seminar terselenggara atas kerja sama Kemendag
dengan Institut Pertanian Bogor, Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Ikatan
Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), dan the Institute for Development of Economics and Finance
(INDEF)