Standard Chartered Bank: Indonesia Raih Momentum Di Tengah Pertumbuhan Ekonomi yang Moderat dan Sejumlah Risiko Global

54

Jakarta, 22 Januari 2018 – Standard Chartered Bank (“Bank”) hari ini meluncurkan laporan Global Focus – Economic Outlook 2018 dalam acara tahunan Global Research Briefing yang dihadiri perwakilan Pemerintah dan pimpinan perusahaan di Hotel Mandarin, Jakarta. Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia; Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif, Indikator Politik Indonesia; Edward Lee, Head, ASEAN Economic Research, Standard Chartered; Madhur Jha, Head, Thematic Research, Standard Chartered; Aldian Taloputra, Chief Economist, Standard Chartered Bank Indonesia; Divya Devesh, FX Strategist, Standard Chartered; Kaushik Rudra, Head, Rates & Credit Research, Standard Chartered Bank, menjadi narasumber dalam inisiatif tahunan Bank ini.

Mengambil tema Beware of the Dog, riset yang disusun oleh tim Global Research di  Standard Chartered Bank ini menyoroti pertumbuhan ekonomi global, regional, dan nasional serta topik geopolitik. Edward Lee menjelaskan pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan akan menguat sebesar 3,9 persen yearon-year dibanding tahun 2017, sementara pembangunan infrastruktur dan kebijakan ekonomi struktural yang dijalankan pemerintah akan terus mendukung pertumbuhan di kawasan ASEAN.

Meskipun demikian, solidnya pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini tetap dibayang-bayangi oleh risiko global yang harus terus diawasi. Saat ini, pasar memfaktorkan risiko premium yang rendah, namun Standard Chartered Bank berpandangan bahwa risiko-risiko ini tidak bisa diabaikan, termasuk di antaranya (1) risiko akibat normalisasi kebijakan moneter negara-negara maju; (2) risiko yang berasal dari pertumbuhan perdagangan global yang tidak sekuat 2017; (3) risiko geopolitik yang dapat mempengaruhi pasar dan pemulihan ekonomi global; dan (4) risiko kenaikan harga minyak yang tajam normalisasi kebijakan moneter negara-negara maju.

Menyoroti perekonomi Indonesia, Bank memperkirakan akan terus tumbuh yang didorong oleh terus berlanjutnya proyek infrastruktur pemerintah, pemulihan investasi swasta yang didukung membaiknya iklim investasi, dan permintaan ekspor yang masih cukup baik.

“Dengan sejumlah faktor seperti proyek-proyek pembangunan pemerintah, iklim investasi yang lebih bergairah dan kondisi permintaan ekspor yang baik, kami memperkirakan ekonomi Indonesia akan dapat bertumbuh sebesar 5,2 persen pada tahun 2018, atau lebih cepat dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang berada di kisaran 5,1 persen. Kebijakan pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga inflasi makanan dan mendorong daya beli terutama masyarakat menengah bawah melalui peningkatan belanja sosial, subsidi, dan dana desa akan menahan pelemahan konsumsi sektor swasta,” jelas Aldian Taloputra.

Lebih lanjut, Aldian menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia tetap masih belum merata, meskipun investasi dan ekspor meraih momentum yang didukung oleh proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan solidnya permintaan dari eksternal. Namun di sisi lain, konsumsi melemah diakibatkan oleh melambatnya peningkatan upah kerja, adanya kenaikan tarif listrik, dan pemerataan ketersediaan lapangan kerja di sektor formal. Untuk mengimbangi hal ini, pemerintah telah menyempurnakan kebijakan fiskal untuk tahun 2018 dengan belanja dan subsidi sosial yang lebih besar, guna meningkatkan daya beli masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah.

Sementara itu, investasi di sektor swasta diharapkan akan berperan lebih aktif tahun ini. “Dengan terbatasnya ruang fiskal, dan peningkatan anggaran belanja infrastruktur sebesar 6 persen pada tahun 2018, diharapkan terdapat lebih banyak investasi di sektor swasta,” ujar Aldian.

Terkait inflasi, Bank juga memperkirakan bahwa inflasi akan mengalami peningkatan menjadi 4 persen yearon-year pada akhir 2018 dari 3,8 persen pada akhir 2017. Proyeksi peningkatan ini didasarkan atas adanya inflasi makanan dan kenaikan harga yang lebih tinggi untuk beberapa tipe bahan bakar ritel.

Dalam kata sambutannya, Rino Donosepoetro mengatakan, “Meski pertumbuhannya moderat, kami yakin tahun ini Indonesia meraih momentumnya. Dengan akselerasi reformasi yang terus berjalan dalam beberapa tahun terakhir, kini kita tengah melihat upaya tersebut membuahkan hasil, seperti peringkat investment grade yang berhasil diraih, progresifnya proyek infrastruktur, serta meningkatnya kepercayaan investor dalam berbisnis di negeri ini. Ini merupakan reformasi fundamental dan pemerintah telah berhasil menahan perlambatan ekonomi.”

Global Research Briefing merupakan platform yang ideal dimana para pemangku kepentingan – pemerintah, pemimpin industri dan pelaku bisnis dapat berinteraksi dan memperoleh wawasan terkini yang dapat menjadi pertimbangan penting dalam mengambil langkah strategis dalam bisnis dan dunia usaha. Lebih dari itu, acara ini diharapkan mampu menjadi titik awal sebuah kolaborasi.”

Poin-poin utama tentang ekonomi Indonesia dalam Global Research Report – Beware of the Dog:

• Pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut. Kami memperkirakan pertumbuhan PDB akan meningkat menjadi 5,2% y/y di tahun 2018 dari 5,1% y/y di tahun 2017 karena investasi dan ekspor yang lebih kuat dan stabilnya konsumsi swasta.

• Pemerintah cenderung menyempurnakan kebijakan untuk mendukung daya beli rumah tangga, sekaligus menjaga pengeluaran infrastruktur sebagai prioritas utama. Kami melihat risiko terhadap target defisit fiskal sebesar 2,2% dari PDB karena potensi kekurangan pendapatan.

• Tingginya harga minyak terhadap ekonomi merupakan hal netral ke positif, tergantung pada dampaknya terhadap inflasi dan korelasinya dengan harga komoditas lainnya. Kami memperkirakan inflasi akan sedikit lebih tinggi pada 4% y /y di tahun 2018 karena menormalisasikan inflasi pangan dan harga BBM yang lebih tinggi.

• Inflasi yang dapat dikelola, defisit C/A, dan lingkungan USD yang lemah memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan tingkat suku bunga yang tidak berubah tahun ini.

• Kami memiliki pandangan Netral tentang Rupiah; arus masuk yang berkelanjutan dapat mengimbangi defisit neraca berjalan yang melebar.

• Faktor politik cenderung menjadi pertimbangan yang lebih menonjol dalam pembuatan kebijakan selama tahun-tahun pemilihan. Namun secara historik, kita melihat minimnya risiko politik terhadap kinerja ekonomi.

TENTANG STANDARD CHARTERED

Kami adalah grup perbankan internasional terdepan, dengan dukungan lebih dari 84,000 orang staf serta rekam sejarah lebih dari 150 tahun di beberapa pasar dinamis di dunia. Kami melakukan kegiatan perbankan bersama masyarakat dan perusahaan untuk giatkan investasi, perdagangan, serta penciptaan kemakmuran di Asia, Afrika dan Timur Tengah. Warisan dan nilai-nilai budaya kami tercermin melalui janji merek kami, yaitu Here for good. Standard Chartered PLC tercatat di Bursa Saham London dan Hong Kong, serta di Bursa Saham Nasional di India dan Mumbai. Sebagai salah satu bank tertua di Indonesia, Standard Chartered Bank rmemiliki pengalaman lebih dari 150 tahun sejak memulai layanan pertama kali pada tahun 1863 lalu. Dengan dukungan 23 kantor cabang yang terletak di 8 kota besar di Indonesia dan jaringan di lebih dari 30,000 ATM Bersama, menjadikan Standard Chartered adalah salah satu bank internasional dengan rekam jejak terluas di Indonesia. Standard Chartered juga memiliki saham di PermataBank. Untuk informasi lebih lanjut harap kunjungi www.sc.com, atau blog kami, BeyondBorders. Ikuti pula akun media sosial Standard Chartered di Twitter, LinkedIn dan Facebook.