Kuliah Umum Magister Arsitektur UKDW : Jogja Istimewa Menuju Aerotropolis?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yogyakarta, 6 Februari 2018 – Program Studi Magister Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengadakan kuliah umum untuk mengawali perkuliahan semester genap tahun ajaran 2017/2018 di ruang seminar Pdt. Harun Hadiwijono pada Senin (5/2) lalu. Bertemakan “Jogja Istimewa Menuju Aerotropolis?”, kuliah umum ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten dalam membahas soal pembangunan bandara baru di Kulonprogo.

Adapun narasumber yang hadir adalah Ir. Gatot Saptadi selaku Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Prof. Dr. Susetiawan, M.Sc selaku dosen Fisipol UGM Yogyakarta, serta Ir. Henry Feriadi, M.Sc. Ph.D selaku dosen Magister Arsitektur UKDW.

Kaprodi Magister Arsitektur UKDW, Prof. Titien Saraswati, M.Arch. Ph.D., menyampaikan bahwa kuliah umum ini rutin diselenggarakan sebagai awal dimulainya perkuliahan semester baru. “Kegiatan ini diadakan demi meningkatkan kualitaas akademik di Magister Arsitektur yang saat ini sudah terakreditasi B dari BAN-PT,” tuturnya.

Kuliah umum mengupas berbagai hal mengenai perkembangan daerah Kulonprogo yang nantinya akan menjadi aerotropolis (kota bandara) dengan kehadiran bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo.

Dalam paparannya, Gatot Saptadi menuturkan bahwa pembangunan bandara baru mempertimbangkan tiga aspek yakni aspek fisik dan lingkungan, aspek sosial, serta aspek ekonomi yang akan mempengaruhi berkembangnya aerotropolis, atau bertumbuhnya kawasan di sekitar bandara.

Sedangkan Susetyawan menekankan bahwa aerotropolis akan menghasilkan marjinalisasi yang semakin luas jika pelayanan publik tidak ditegakkan untuk menghargai kepentingan bersama dalam menata ruang dan lingkungan, mengatur tata pemilikan tanah, melahirkan budaya baru yang menghargai kemanusiaaan, dan birokrasi negara yang menjamin prinsip keadilan.

Sementara itu Henry Feriadi menyoroti risiko yang harus diantisipasi akibat lokasi bandara yang berada di pantai selatan dan langsung berhadapan dengan laut selatan. “Risiko yang dihadapi bandara NYIA adalah gempa bumi, tsunami, terpaan angin silang maupun migrasi burung, serta korosi,” pungkasnya.