Geliat Pasar Pusat Data Indonesia

46

9 Januari 2018 – Munculnya sejumlah regulasi di berbagai sektor kegiatan ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir, yang mengharuskan perusahaan yang beroperasi di Indonesia untuk menyimpan data di dalam negeri telah mendorong tumbuhnya bisnis pusat data dan teknologi komputasi awan (cloud computing).

Di sektor keuangan, misalnya, ada Peraturan Pemerintah No. 82/2012 yang mewajibkan sistem pembayaran elektronik untuk menyimpan datanya di Indonesia. Di sektor minyak dan gas, SKK Migas sejak 2013 mewajibkan seluruh perusahaan migas memiliki pusat data yang ditempatkan di Indonesia.

Di sisi investor, Indonesia menjadi tempat pengembangan bisnis pusat data dan teknologi kumputasi awan karena tingkat pengembalian modal investasi (ROIC) yang mencapai 11,6 persen, atau tertinggi di Asia Pasifik. Di Singapura, tingkat ROIC hanya 9,5 persen, sedang di Australia, karena mahalnya fasilitas di perkotaan, angka ROIC hanya 3,8 persen atau terendah.

Pusat data atau data center adalah fasilitas untuk menempatkan sistem komputer, cadangan informasi, server website atau database, dan komponen terkaitnya. Sedangkan komputasi awan merupakan layanan teknologi penyimpanan informasi melalui jaringan berbasis internet yang bisa diakses nirkabel melalui perangkat elektronik.

Sebelum maraknya bisnis pusat data dan komputasi awan, keduanya kerap dianggap sebagai bagian perusahaan telekomunikasi. Namun, belakangan dua unit usaha ini dapat berdiri sendiri karena memiliki fokus operasional dan cashflow yang jelas.

“Perusahaan telekomunikasi sebaiknya mendivestasikan usaha pusat data miliknya, sebab (jika tidak dipisahkan) berpotensi menurunkan nilai usaha pusat data tersebut hingga 16 kali,” ujar Sachin Mittal, Tsz Wang Tam, Toh Woo Kim, dan Chris Ko Cfa dalam DBS Group Research yang bertajuk Data Centre & Cloud: Divestments and M&As to Accelerate in 2018.

Laporan tersebut memuat contoh di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, di mana perusahan telekomunikasi telah mendivestasi bisnis pusat data mereka. Dana yang didapatkan dari divestasi tersebut kemudian digunakan untuk mengaktifkan fasilitas teknologi awan atau diinvestasikan ke bisnis lainnya seperti Big Data Analytics.

Ada dua jenis layanan teknologi awan yaitu private dan public cloud. Private cloud adalah layanan ekslusif yang disediakan untuk internal organisasi atau perusahaan. Fasilitas ini lebih aman karena dikelola sendiri, namun biaya operasionalnya yang cukup tinggi. Sedangkan public cloud untuk pengguna lebih luas, seperti yang disediakan Adobe Reader Cloud, Windows Azure, Amazon Web Services, dan Google Cloud.

Oleh karena itu, lebih banyak perusahaan–termasuk 48 dari 50 Fortune Global–yang memilih layanan publik ketimbang private. Hal ini jelas menekan pendapatan bisnis private cloud. Maka, para pemain di bisnis private cloud pun berakspansi ke area lain, seperti penyediaan layanan pendukung keamanan dan pengelolaan dan monitoring teknologi awan.

Menurut survey Bain and Company, lembaga konsultan bisnis, terjadi peningkatan penggunaan teknologi awan global dari satu persen pada 2010 menjadi 16 persen pada 2015 dengan nilai melebihi USD 17 miliar. Selain itu, berdasarkan laporan McAfee, sebuah perusahaan layanan keamanan siber global, penggunaan komputasi awan hybrid juga melonjak dari 19 persen di 2015 menjadi 57 persen di 2016.

Laporan Synergy Research Group menyebut Amazon Web Services sebagai pemain terbesar public cloud, dengan penguasaan 34 persen pasar global. Selanjutnya adalah Microsoft yang menguasai 11 persen dan Google sebesar 5 persen. Sedangkan di Indonesia, pemain terbesar saat ini adalah Telkomsigma yang merupakan anak perusahaan Telkom. Telkomsigma memiliki 100 klien komputansi awan, mulai dari UMKM hingga perusahaan besar nasional.

Pada 2014 nilai transaksi pasar pusat datar dan komputasi awan Indonesia sebesar Rp 4,4 triliun. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, pasar pusat data Indonesia diprediksi tumbuh sekitar 20 persen pertahun dalam periode 2015 hingga 2107 seiring dengan berkembangnya teknologi digital dan online.

Tentu saja, pertumbuhan fasilitas pusat data di Indonesia akan dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur nasional, terutama di luar Pulau Jawa. Saat ini, industri pusat data di Indonesia dapat disebut masih dalam fase awal, dengan 60 persen aktivitasnya terpusat di Jakarta.

Tentang DBS

DBS – Living, Breathing Asia

DBS adalah grup layanan keuangan terkemuka di Asia, dengan lebih dari 280 cabang di 18 pasar. Berkantor pusat dan terdaftar di Singapura, DBS berkembang di tiga sumbu utama Asia: Greater China, Asia Tenggara dan Asia Selatan. Peringkat kredit “AA-” dan “Aa1” bank tersebut, termasuk yang tertinggi di dunia.

DBS berada di garis depan dalam hal memanfaatkan teknologi digital untuk membentuk masa depan perbankan, dan telah diberi nama sebagai “Bank Digital Terbaik Dunia” oleh Euromoney. Hal ini karena DBS telah dikenal karena kepemimpinannya di kawasan ini, yang diberi nama “Asia’s Best Bank” oleh beberapa publikasi termasuk The Banker, Global Finance, IFR Asia dan Euromoney sejak tahun 2012. Selain itu, bank tersebut telah diberi nama “Bank Terpercaya di Asia” oleh Global Finance selama delapan tahun berturut-turut dari tahun 2009 sampai 2016.

DBS menyediakan berbagai layanan di bidang consumer, SME dan corporate banking. Sebagai bank yang lahir dan berkembang di Asia, DBS memahami seluk beluk bisnis di pasar paling dinamis di kawasan ini. DBS berkomitmen untuk membangun hubungan yang kekal dengan pelanggan, dan memberi dampak positif pada masyarakat melalui usaha sosial yang mendukung, karena bank tersebut menjadi bank yang bekerja dengan cara Asia. DBS juga telah menggalang SGD 50 juta untuk memperkuat usaha tanggung jawab sosial perusahaan di Singapura dan seluruh Asia.

Melalui jaringan operasinya yang luas di Asia dan penekanan untuk melibatkan dan memberdayakan stafnya, DBS menyajikan peluang karir yang menarik. Bank Dunia mengakui semangat, komitmen dan semangat yang dapat dilakukan di seluruh 22.000 staf kami, mewakili lebih dari 40 negara. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com.

Tentang PT Bank DBS Indonesia

Didirikan pada 1989, dan menjadi bagian dari kelompok usaha DBS Group di Singapura, PT Bank DBS Indonesia (Bank DBS Indonesia) merupakan salah satu bank yang telah berdiri lama di Asia. Dengan 44 cabang dan 1.600 karyawan aktif di 13 kota besar di Indonesia, Bank DBS Indonesia menyediakan layanan perbankan menyeluruh untuk korporasi, usaha kecil dan menengah (SME), dan aktivitas perbankan konsumen. Diakui sebagai “Best Wealth Manager in Indonesia” oleh The Asset dan selama delapan tahun berturut-turut hingga 2016, DBS meraih predikat “Safest Bank in Asia” oleh Global Finance. DBS Indonesia juga merupakan penerima predikat ‘Sangat Baik’ untuk kategori Aset Rp50 Triliun sampai dengan di bawah Rp100 Triliun dari Infobank. Baru-baru ini, DBS juga dinobatkan sebagai World’s Best Digital Bank oleh Euromoney berkat agenda transformasionalnya dalam perbankan digital. Untuk berkontribusi lebih terhadap masyarakat, Bank DBS Indonesia turut mendorong pengembangan wirausaha sosial sebagai fokus area tanggung jawab sosial perusahaan.